Aku lebih suka menyebut kota jogja sebagai kota angkringan dari pada gudek, setiap sudut pasti kita akan menjumpai yang namanya angkringan.
Di pinggir rel, di gang sempit di samping kampus, trotoar apalagi memang disanalah tempat faforit angkringan nangkring.
Ada juga yang di desain mewah tentunya angkringan seperti ini adalah segmennya kelas menengah keatas, hanya mau minum wedang wuwuh, sama dua nasi kucing plus ceker pake mobil yang parkirnya aja 5000, dan yang pasti ini yang bikin jalanan sumpek dan macet.
Untuk segmen kelas menengah desain tempatnya unik, klasik, parkiran luas dan tentunya dengan menegemen modern, kalau kata Max Weber semua aktifitas dagangnya sudah menggunakan itung-itungan dan catatan yang rasional, ditambah lagi para pegawainya yang harus menaati "Protab", baik seragam, jam masuk, gaji, dan cara melanyani konsumen.
Berbeda dengan angkringan kelas "terpal" yang desainnya minimalis menggambarkan jumlah modalnya yang tak sebarapa, di tambah lagi rata-rat yang jualan adalah pemiliknya sendiri, jam pagi sampe sore biasanya jatahnya yang menjaga si istri, kalau maenjelang malam masuklah pemain pengganti yaitu suami. Ini yang di sebut soekarno dengan "Marhaen" (baca: karya-karya bung Karno)
Dan yang pasti diangkringan gaya wong cilik ini lebih sahdu, kita bisa bercengkrama dengan yang jualan, dengan sesama konsumen sambil jagongan sekedar ngrasani tetangganya ataupun dinamika politik yang terjadi, itu sangat sahdu sekali.
Dan momen seperti ini tidak bisa di temukan pada angkringan dengan menegen modern, antara pedagang dan pembeli tidak bisa melakukan aktifitas lebih dari hanya sekedar transaksi kita (penjual, pegawai, pembeli, dan dagangannya) teraleniasi oleh sistem. Jigur, Marxis bingit.
Tapi beneran, nangkring diangkringan kelas "terpal" gayeng tenan, lur !!






0 komentar:
Posting Komentar