Laman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label JEJAK PENDAPAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEJAK PENDAPAT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 November 2017

Soto hidangan ekonomis

Hidangan hajatan yang di lakukan masyarakat kelas bawah di beberapa daerah yang saya pernah jumpai adalah soto.

Dari mulai acara mantenan, sunatan, dll rata-rata menggunakan menu soto. Menu ini terkesan mewah simpel dan tentunya ekonomis.

Tentunya varian sotonya sesuai lidah daerah masing-masing. Akan tetapi rata-rata sama dengan kuah agak kuning dan menggunakan daging ataupun jeroan.

Ada tips yang lebih ekonomis lagi, berikut tips soto ekonomis dari hasil analisa lapangan.

Yang pertama, perbanyak kuah, ini berfungsi untuk meminimalisir porsi nasi, karena maklum walaupun negara kita agraris akan tetapi tidak mempunyai keadaulatan pangan walhasil ya harga beras mahal. Nah dengan memperbanyak kuah akan menutupi kekurangan nasi, dan yang pasti tamu undangan akan kenyang air.

Yang kedua, perbanyak sayur, semisal kobis, tauge, seledri. Ini berfungsi untuk mengkamuflasi daging, jadi walaupun porsi dagingnya sedikit akan tertupi dengan banyak sayur. Dan tentunya akan lebih menyehatkan plus irit.

Yang ke tiga, gunakan piring atau mangkok ukuran mini. Jika anda ingin membuat gaya prasmanan jangan menggunakan tempat makan yang besar karena akan membuat pasukan berani makan bebas mengambil sepuasnya, padahal biasanya pasukan berani makan ini hanyalah tim hore yang orientasinya hanya kenyang tapi cuma membawa amplop kosong. Bisa tekor.

Nah itu tadi beberapa tips hidangan soto yang melegenda dan menusantara, tapi hati-hati itu prodak dari cina lo yang diakulturasi lewat pesisir semarang, jadi yang merasa anti cina dan komunis hindarilah makanan tersebut. Jangan hanya pas orasi saja mengatakan anti ini anti itu, ehhhhh pas dapat soto minta nambah, tekor sodara.

Kamis, 02 November 2017

Angkringan, gayeng Lurr

Aku lebih suka menyebut kota jogja sebagai kota angkringan dari pada gudek, setiap sudut pasti kita akan menjumpai yang namanya angkringan.

Di pinggir rel, di gang sempit di samping kampus, trotoar apalagi memang disanalah tempat faforit angkringan nangkring.

Ada juga yang di desain mewah tentunya angkringan seperti ini adalah segmennya kelas menengah keatas, hanya mau minum wedang wuwuh, sama dua nasi kucing plus ceker pake mobil yang parkirnya aja 5000, dan yang pasti ini yang bikin jalanan sumpek dan macet.

Untuk segmen kelas menengah desain tempatnya unik, klasik, parkiran luas dan tentunya dengan menegemen modern, kalau kata Max Weber semua aktifitas dagangnya sudah menggunakan itung-itungan dan catatan yang rasional, ditambah lagi para pegawainya yang harus menaati "Protab", baik seragam, jam masuk, gaji, dan cara melanyani konsumen.

Berbeda dengan angkringan kelas "terpal" yang desainnya minimalis menggambarkan jumlah modalnya yang tak sebarapa, di tambah lagi rata-rat yang jualan adalah pemiliknya sendiri, jam pagi sampe sore biasanya jatahnya yang menjaga si istri, kalau maenjelang malam masuklah pemain pengganti yaitu suami. Ini yang di sebut soekarno dengan "Marhaen" (baca: karya-karya bung Karno)

Dan yang pasti diangkringan gaya wong cilik ini lebih sahdu, kita bisa bercengkrama dengan yang jualan, dengan sesama konsumen sambil jagongan sekedar ngrasani tetangganya ataupun dinamika politik yang terjadi, itu sangat sahdu sekali.

Dan momen seperti ini tidak bisa di temukan pada angkringan dengan menegen modern, antara pedagang dan pembeli tidak bisa melakukan aktifitas lebih dari hanya sekedar transaksi kita (penjual, pegawai, pembeli, dan dagangannya) teraleniasi oleh sistem. Jigur, Marxis bingit.

Tapi beneran, nangkring diangkringan kelas "terpal" gayeng tenan, lur !!

Rabu, 01 November 2017

Celsea vs AS Roma (0-3)

Roma vs Chelsea 3-0 Extended Highlights HD 2017: http://youtu.be/tGI3sQLJTvQ


Pertandingan dini hari menorehkan luka pada vans militan Celsea, dan rata-rata teman kelas pagi semuanya fans militan celsea. Untuk mengobati kesedihannya mereka mengurung diri dalam kamar alias tidur.

Sebelum kick of, fans keudanya saling teror di group angkatan kelas (sebagian dah pada wisuda) segala caci-maki, umpatan, pisuhan dari sabang sampe merauke ada semua, keramaian ini berahir saat menit 70an sekor sudah 2-0 dan fans militan celsea mulai tiarap, dan ada yang untuk sementara keluar dari group karena tak kuat menanggung malu.

Resiko bagi yang masuk menjadi agen titipan absen. "Budi" waktu dosen mengabsen menyebut keras nama salah satu kawan. "Izin pak" jawabku dengan agak ragu bercampur perasaan bersalah, "izin apa" tegas dosen, "sakit pak" aku mejawab, "sakit apa" tanyanya lagi, "sakit hati gara-gara Celsea kalah pak", alah mak keceplosan, dan pada ahirnya kawanku tetap di Alfa.

Maafin ya, abang keceplosan.

Selasa, 31 Oktober 2017

Alexis ditutup

Berita penutupan Alexis menggegerkan jagat, baik media cetak maupun online diwarnai dengan berita itu. Bukan hanya di media tapi di obrolan tongkrongan pun membicarakan Alexis.

"Penutupan Alexis sudah menjadi kehendak sebagian masyarakat, dan sebagian media yang melaporkan bahwa izin Alexis tidak sesuai dengan praktek usahanya, didalamnya dipakai tempat mencari cinta satu malam, mabuk dan perbuatan amoral lainnya. Ini yang dijadikan alasan yang mengatakan "kenapa menggusur rumah warga tegas, tapi menutup Alexis lemas.

Awalnya saya menilai ini adalah "gorengan" isu untuk menurunkan elektabiltas Ahok, dan saat pemilihan gubernur di buat gurih sebagai janji kampanye Anis, sekarang sudah di penuhi dengan ditolaknya perpanjangan izin dari pihak Alexis" begitu kata salah satu teman aktif nongkrong sekaligus yang tak pernah absen.

Tapi, aku pikir lebih dari itu, kenapa desakan dari sebagian masyarakat terfokus pada penutupan Alexis saja, padahal banyak sekali tempat wisata yang serupa Alexis tapi masih tetap eksis. Kalau tak percaya searching saja dan kunjungi, itupun kalau punya ongkos.

Senin, 30 Oktober 2017

Revolusi Putih ala Pakde Bowo

Melalui adiknya Hashim Djojohadikusumo, Prabowo mengusulkan (lebih tepatnya sih memerintahkan) kepada Anis - Sandi untuk menerapkan Revolusi Putih di DKI. 


Revolusi Putih ala pakde Bowo adalah menggenjot tingkat konsumsi susu di kalangan masyarakat luas. Waww susu,, Kampanye ini sebetulnya sudah muncul sejak pemilihan presiden tahun 2009 silam ketika Prabowo Subianto menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri. Pakde Bowo memandang, dalam proses pembangunan SDM perlu adanya asupan gizi yang baik. Dalam hal ini diterapkan kepada pelajar dari SD - SMA, mungkin untuk mahasiswa sudah bisa nyari susu sendiri,. 

Pada dasarnya revolusi putih ini hampir sama dengan revolusi mental ala pakde Jokowi, sama - sama untuk pembangunan SDM. 

Namun ide pakde Bowo ini banyak yang tidak setuju. Ada yang memandang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Salah satunya  Menteri Kesehatan Nila F Moeloek. Nila menilai, program bagi-bagi susu kepada anak-anak itu tidak akan optimal. 
"Saya agak enggak setuju. Susu kalian tahu dari mana? Dari sapi. Cukup enggak sapi kita? 250 juta penduduk mesti dapat dari mana," kata Nila di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (26/10/2017). Nila lebih sepakat dengan menteri Susi yang juga pernah mengkritik revolusi putih  ala pakde Bowo dan mengusulkan "susinisasi".

Apa itu 'Susinisasi'?

Istilah 'Susinisasi' ternyata merujuk pada namanya sendiri sebagai Menteri KKP yang sedang mengampanyekan gerakan makan ikan nasional.

"Susinisasi itu maksudnya makan ikan. Jadi bukan minum susu saja, tapi makan ikan diperbanyak dong," ujar Susi saat berbincang santai dengan wartawan di Ruang VIP Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jumat (21/10/2017).

Gerakan minum susu memang kurang relevan untuk saat ini, mengingat sampai hari ini susu aja masih impor. Sebagai gladiator yang siap masuk gelanggang pada 2019 mendatang, memang harus sering mengeluarkan ide dan gagasan, kali aja menarik. Kita tunggu apakah revolusi putih ini juga menjadi jargon pakde Bowo pada pilpres mendatang.

Jangan Lupa bercermin

Yang dinamakan perbuatan jahat jika perbuatan itu diketahui oleh banyak orang dan dianggap tidak sesuai laku budaya masyarakat pada umumnya, misalkan perbuatan sex yang menjadi sorotan publik kali ini.

Banyak netizen menghujat perbuatan tersebut dan juga ada yang menilai secara bijak.

Pagi tadi saat nongkrong di kedai kopi- tempat dimana mahasiswa males masuk kelas-juga membicarakan peristiwa hot yang rasanya sayang untuk dilewatkan.

Salah satu teman memaki tindakan tersebut dengan analisis moralnya, bahwa ini dampak dari pergaulan bebas khas mahasiswa. Cenderung menyeragamkan, dia menilai panjang kali lebar. Kata dia, ini termasuk penyakit sosial yang dialami pemuda yang jauh dari kontrol orang tua dan tidak memegang teguh budaya serta mengabaikan ajaran agama.

Diahir pembicaraan dia memperlihatkan vidionya yang di simpan di folder yang di beri judul "tugas kuliah" didalamnya ada macam-macam vidio dari mulai yang lagi tren dibicarakan sampai adegan artis yang dulu sempat menjadi viral masih disimpan.

Rasanya geli melihat tingkah temanku, dalam analisa dia moralis akan tetapi dalam praktek dia menikmati vidio yang dia hujat. Bukankah ini termasuk juga penyakit sosial.

Ini tipe prilaku buruk yang tidak terasa, asik menilai orang lain tapi lupa bercermin, ibarat pepatah "upil dihidung orang lain nampak, tapi belek di mata sendiri tak tampak".
Jadi, jangan lupa bercermin.

Sabtu, 28 Oktober 2017

SUMPAH PEMUDA HARI INI

Bangun pagi terasa ringan sekali disaat ada sesuatu yang mau dikerjakan, apalagi sesuatu itu memang pilhan sendiri dan dikerjakan dengan senang hati, riang gembira. Berbeda dengan bangun pagi dengan alasan masuk kelas, ya salam itu berat. Sumpah.

Alasan bangun pagi kali ini karena hari ini tepat 89 tahun yang lalu para pemuda seIndonesia mengucapkan janji setia. Janji yang mempersatukan bangsa kita hingga saat ini.

Kali ini kami menggelar diskusi peran pemuda diera digital, era yang ditandai dengan teknologi informasi berbasis internet menjadi tulang punggung berjalannya kehidupan. Coba andaikan internet tutup sehari saja, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi?emakku ga jadi ngegojek.

Diskusi sangat menarik dipandu moderator yang cantik sekaligus pemandu ikrar sumpah pemuda sebagai refleksi pemuda sekarang.

Era digital memang tidak bisa ditolak, akan tetapi hal positif apa yang dapat di kerjakan untuk membangun bangsa? Dari pemateri pertama menawarkan refleksi spirit pemuda dulu yang harus dimiliki oleh pemuda zaman now, pemateri kedua mengajarkan mengenali persoalan terutama dibidang pertanian dan maritim, pemateri ketiga juga mengurai persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia, baik persoalan kekerasan perempuan, korupsi, intoleransi, sara, dan ancaman disintgrasi yang selalu disebarkan di media sosial.

Terus apa yang harus dilakukan stelah mengenal persoalan dan menyadari kalau ada yang salah dan harus dibenarkan? Jawabanya sederhana, lalukan hal yang positif sekecil apapun yang memberikan efek terhadap masyarakat, caranya bagaimana? Terjun bersama dengan masyarakat, melakukan kegiatan yang berbasis pemberdayaan lokal, memberikan sosialisasi akan pentingnya mengetahui UU tentang desa dll.

Itu semua bisa dilakukan kalau kita mempunya jiwa muda yakni spirit keterlibatan dalam perubahan kearah yang lebih baik.

Jumat, 27 Oktober 2017

CARA MEMIMPIN

Setiap pemimpin mempunyai caranya sendiri untuk mengambil hati masanya sekaligus untuk melawan lawannya. Hitler dengan gaya berapi-api di bumbui dengan sikap cauvisnisme. Muhammad dengan mencotohkan ahlaqul karimah dengan empat sifat idelanya, sidiq, amanah, tabligh, fatonah. Soeharto dengan gaya kalem dan senyum tipis-tips tipikal orang jawa yang santun. Ada yang hanya menampakkan ke angkerannya dengan memasang wajah asam, cemberut sebagai pembatas agar di hargai, setiap dialog dengan nada keras walaupun tidak kongkrit, yang penting keras agar lawan malas membantah. Pemimpin yang demikian hanya mau mendengarkan perkataannya sendiri (bukan Ahok lho).

Dizaman teknologi komunikasi, media sosial menjadi media para pemimpin untuk menaklukkan hati rakyatnya, ada yang hobi curhat lewat twitter, ada yang suka ngevlog, youtube dll.

Kali ini yang menyita sorotan publik adalah wakil gubernur jakarta yang baru dengan gimik sebagai gerkan mengecoh lawan sekaligus mendapat simpati masa. Cukup berlian dengan cara-cara yang kekinian, fres dan tentunya menghibur, karena memang rakyat sangat butuh hiburan. Rasanya harapan mencari peminpin ideal -yang berahlaq baik dan berpihak pada rakyat- sudah jauh panggang diatas bara. Sulit sekali mendapat pemimpin yang komitmen dengan janji politiknya yang memang terlalu muluk. Ditengah harapan yang tak mungkin terkabulkan dan memang sudah hampir mustahil mencari pemimpin yang ideal, paling tidak pemimpinnya menghibur dan lucu dengan kekonyolannya.

Kamis, 26 Oktober 2017

Terimakasih para pemuda yang telah membuat janji setia berbahasa satu bahasa Indonesia

SOUNDQUARIUM | Bangga Bahasa Indonesia: http://youtu.be/qpdywcHL1ik

SUMPAH PEMUDA

26 Okteber 84 tahun yang lalu para pemuda sibuk menyiapkan acara konggres pemuda ke dua yang jatuh pada tanggal 27-28. Persiapannya bukan hanya pada tanggal 26 oktober akan tetapi jauh sebelum itu, tahun 1926 para pemuda melaksanakan konggres pemuda pertamanya sebagai upaya mempersatukan seluruh pemuda Hindia Belanda.

Sebagai folow up dari konggres pertama diadakan tiga kali pertemuan (12 Februari 1927, 3 Mei 1928, 12 Agustus 1928) sampai pas pada pertemuan ahir 12 Agustus 1928 dihadiri seluruh perwakilan pemuda dari berbagai wilayah, pada pertemuan itu mereka bersepakat untuk mengadakan konggres pemuda ke dua.

Konggres pemuda ke dua di inosiatori oleh organisasi PPPI, dan sekaligus menjadi ketua dalam konggres. Setiap perwakilan organasasi hanya mendapat satu job dalam kepanitiaan acara, tidak boleh lebih.

Sumpah pemuda yang dilaksanakan di Batavia di kreatori oleh pelajar dari hukum dan kedokteran. Dari dua fakultas tersebut menelurkan intelektual organik. Corak penjajah paling reaksioner adalah belanda. 350 tahun hanya mengeruk keuntungan dan membiarkan rakyat tetap bodoh. Hingga ahirnya muncul politik etis dan sampai tahun 1942 belanda belum meberikan pendidikan yang mumpuni, belum ada yang namanya universitas modern, sampai tahun 1942 baru ada dua fakultas, di Jakarta ada  fakultas hukum dan fakultas teknik berada di bandung.

Dan hanya sebagian kecil aktivis kemerdekaan mendapat pendidikan, mereka lebih banyak didik oleh rakyat yang menjadi gurunya, dari rakyatlah teori-teori revolusioner akan tumbuh. Bukan cuma menghasilkan teori retoris yang hanya laku di sekolah dan berhenti di rak, ketika penuh di bakar.

Dari aksi refleksi yang dilakukan para pemuda hingga mampu memberi ketegasan tentang persatuan yang setelahnya di sebut "sumpah pemuda" sebagai komitmen, janji suci untuk mewujudkan persatuan bangsa. Tertuang dalam tiga butir:
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Mari kita jaga, jangan hianati perjuangan para pemuda dengan merusak persatuan demi kepentingan kuasa.

Rabu, 25 Oktober 2017

PEMUDA ADALAH SPIRIT

Pemuda adalah semangat yang tak memperdulikan usia, walaupun ia tua akan tetapi punya kemauan melakukan perubahan dan mau melaksanakan apa yang ia inginkan itulah pemuda. Bukan persoalan usia, kalaupun usia masih remaja tetapi semangat perubahan zamannya sirna di telan kebodohan, kekolotan yang mengerak dalam batok kepala, sesungguhnya ia layak di sebut golongan tua, yang hanya bisa mengamini keadaan dan beromantisme.

Ada cerita inspiratif tentang semangat muda, bung Karno pada saat mau melaksanakan akad dengan Utari, bung Karno mengenakan pakaian belanda, mengenakan jas, dasi. Sontak semua yang hadir dalam acara tersebut kaget, terutama penghulu yang langsung mengurnya dan mengancam tidak akan menikahkan bung Karno dengan Utari. Kata penghulu "hai anak muda, dasi yang kamu pakai adalah pakaian kristen, tidak sesuai dengan adat kita yang beragama Islam.

Bung Karno membela diri "cara berpakaian kini sudah diperbaharui",

Penghulupun membentak sembari berkata"pembaharuan itu hanya sebatas pakai jas terbuka".

Dengan nada tinggi bung Karno menjawab"Nabi sendiri sekalipun tak akan sanggup menyuruhku menanggalkan dasi".

Penghulu bangkit dari kursi dan mengancam akan membatalkan akad nikah.

Kisah dari bung Karno menggambarkan bagaimana memperjuangkan suatu kemajuan sedang "yang lain masih berpendirian kolot". Selalu mengamini keaadaan maka akan stagnan.

Selain itu juga bung Karno pernah tidak mau menghadiri acara rapat yang dilakukan oleh Muhammadiah, dikarenakan posisi duduk laki-laki dan perempuan di sekat dengan tabir dari kain. Bagi dia tabir kain memang remeh akan tetapi ada problem yang besar disana menyangkut posisi sosial perempuan, tabir adalah simbol perbudakan bagi kaum perempuan.

Selain bung Karno ada Tan Malaka yang menghantam pemikiran kolot dan tua dengan senjata MADILOG, walaupun Tan Mlaka mengarangnya pada usia yang tak muda lagi.

Juga bung Hatta pernah mengatakan "indonesia yang muda harus memutuskan semua hubungan dengan masa lampau, untuk membangun kehidupan nasional baru yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Dalam pidato bung Karno pernah mengatakan berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia. Jadi sebenarnya pemuda adalah spirit perubahan, sepirit dialektika historis yang bisa di lakukan oleh siapapun yang mempunyai semangat tersebut.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Musik Kids Jaman Now


Siapa sih di dunia ini yang tidak suka musik?. Hampir semua makhluk yang berakal dan berproduksi suka dengan musik.


Banyaknya genre musik yang berkembang sehingga selera musikpun berbeda setiap orang. Dan selera musik dari orang biasanya mewakili generasinya. Walaupun ada satu dua yang beda. Selera musik anak pra 70an berbeda dengan pasca 70an, dan begitu seterusnya. 

Untuk kids jaman now mempunyai selera musik tersendiri. Maraknya musik KOPLO dan musik INDIE belakangan ini dan banyak diminati oleh remaja dan anak muda, sehingga dapat dikatakan generasi sekarang adalah GENERASI KOPLO atau GENERASI INDIE

Dua jenis musiknya pada dasarnya perkembangan dari jenis musik sebelumnya. Koplo misalnya, musik yang tumbuh kembangnya di daerah Jawa khususnya Jawa timur ini timbul dari kejenuhan terhadap musik dangdut yang tenar pada era sebelumnya dengan menambahkan sedikit polesan-polesan sehingga semakin nikmat didengar. Pada awalnya saya mengira musik koplo ini hanya disukai oleh orang di Jawa, ternyata teman-saya yang berada di pulau Jawa juga banyak yang menyukai dengan musik ini. 

Begitupun juga dengan musik indie. Jenis musik ini lebih mengedepankan kebebasan dan kemandirian (independent) dalam bermusik dan tidak bergantung pada label. Dapatkan dikatakan musik ini merupakan antitesa dari musik menstrim yang sangat bergantung pada label dan pasar.  Band Indie menciptakan lagu sesuai dengan apa yang mereka sukai dan genre yang mereka inginkan. Nggak jarang kalo lagu-lagu yang mereka ciptakan kebanyakan sangat anti-mainstream dari lagu-lagu di pasaran. Sehingga lagu indie banyak sekali variasinya. Sekarang dua jenis musik ini sudah menguasai panggung musik, dan sudah mengakar kedalam tubuh penikmatnya. 

Jumat, 20 Oktober 2017

ISLAM AKULTURASI

Islam hadir di Indonesia dengan misi Revolusi pemikiran tanpa menanggalkan paham dan adat lama. Kehadiran Islam ini berjalan dinamis dan lentur, dalam artian, Islam datang sesuai dengan kondisi masyarakat dapat dilihat dari bentuk simbolis. Seperti kata shalat menjadi sembahyang. Bentuk arsitektur seperti bangunan Masjid yang menyerupai bangunan Hindu-Budha.

Dalam proses Islamisasi dapat disimpulkan Islam berbeda dari negara aslinya, yang mana menurut Kuntowijoyo, Islam mengalami Indonesiasi. Ketika dosis islamnya lebih besar maka yang terjadi konserfatif sebaliknya ketika dosis rendah mengalami sinkretis. Atau meminjam bahasa C. Geertz: Islam Abangan dan Islam Priyayi yang mana dosis Islam dari keduanya sangatlah rendah, sehingga cara beragamanya bercorak Animistik dan menekankan aspek-aspek Hindu.

Manifestasi dari prilaku beragama masyarakat, dapat dilihat dari praktek beragama seperti pesta-pesta ritual yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk mengusir roh jahat yang dianggap sebagai sumber bencana. Dapat juga dilihat dari sistem yang berkaitan dengan etik, tari-tarian dan berbagai bentuk kesenian, bahasa dan pakaian yang biasanya dipraktekkan oleh golongan Priyayi.

Secara kuantitatif proses islamisasi di Indonesia dapat disimpulkan sudah lama selesai, kususnya di wilayah Jawa. Sebagai bentuk prestasi dari dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo. Ini dapat dilihat dari sensus penduduk dari tahun ke tahun yang membuktikan Islam menjadi mayoritas sampai sekarang.

Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah masalah kadar intensifikasi penghayatan Islam sebagai ruh dalam cara hidup beragama masyarakat pada umumnya. Yang terjadi adalah ekspresi keagaamaan yang beragam sesuai dengan tingkat penghayatan dan campuran budaya lokal. Yang menjadi persoalan adalah jika perbedaan ini dijadikan dasar mem'bidah'kan, mengkafirkan. Keberagaman harus diyakini sebagai rahmah tuhan, kalaupun berbeda, bersebarang diselesaikan dengan dialog.

Kamis, 19 Oktober 2017

PERJUANGAN VIA PENA

Setelah membaca sepak terjang Tirto Adi Soerjo, rasanya memang benar kalau pena lebih tajam dari pedang. Ketika pedang sekali tebas dapat merobohkan satu lawan, namun kehendak pena lain, karena sekali gores ribuan orang dapat tersudut dan mati, kehendak pena dapat menggerakkan dan menyatukan ribuan orang dalam satu kekuatan. Seperti yang tergambarkan dalam penggalan syair yang menceritakan tentang sosok Tirto Adi Soerjo.

Peladjar STOVIA di Djakarta
Penulis pembela bangsa
Membasmi sifat pendajajah Belanda
Dengan tulisan yang sangat tadjam penanya
            Membuka sejarah djurnalistika
            “Medan Prijaji” warta hariannya
            “soloeh Keadilan” dan “Poetri Hindia”
            Ada dalam pegangan redaksinya
Penggalan syair diatas adalah penggalan dari karangan Priatman yang memberi gambaran tentang perjuangan orang pribumi yang bersenjatakan pena dalam melawan penjajahan yang dilakukan oleh belanda. Kreator perjuangan jalur jurnalistik ini lahir dari golongan bangsawan, yaitu R.M Tirto Adi Soerjo (1880—1918). Selain mahir dalam dunia jurnalistik, ia juga mahir dalam berorganisasi, ia adalah pendiri organisasi modern pertama Sarikat Prijaji pada tahun 1906. Kemudian ia juga mendirikan organisasi sekaligus gerakan yang ada di Solo yaitu Sarikat Dagang Islam pada tahun 1909. Masa hidup Tirto relative singkat, akan tetapi manis perjuangan Tirto abadi dan bermanfaat untuk pribumi. Tirto bercita-cita mengangkat harkat dan martabat bangsanya, bangsa yang masih dianggap sebagai setengah manusia menjadi manusia utuh yang dapat memperoleh hak-hak sebagai manusia sejati dan tidak terjajah.

Tirto adalah cucu dari R.M.T Tirtonoto, bupati Bojonegoro, yang sebelum 1827 bernama Rajegwesi, karisedenan Rembang pada masanya. Dia adalah bangsawan yang jenius dan sadar bahwa negerinya sedang dijajah. Kejeniusannya membuat asisten Residen Wolff Van Wes Terrode terpikat dengannya, Tirto banyak ditawari jabatan sebgai pegawai negeri, salah satunya ia ditawari jabatan pada lembaga dinas pembasmian lintah darat. Namun tirto tetap dengan sikap mandirinya dengan tegas menelok berbagai macam jabatan yang ditawarkan. Bagi dia pegawai negeri hanyalah suatu penghormatan semu. Lebih baik berdiri dikaki sendiri dari pada menetek pada penjajah yang telah menguras keringat dan darah rakyat.

Sikap mandiri yang dimiliki Tirto merupakan warisan dari neneknya yang masih keturunan pangeran Samber Nyowo. Dalam tatanan masayarakat feodal—yang penuh hirarki, unggah-ungguh—bangsawan/priyayi dapat mengakses jabatan dengan mudah, namun sewaktu kecil neneknya telah memberikan pondasi yang kokoh terhadap  Tirto. Neneknya selalu berpesan padanya untuk menjadi orang yang percaya pada diri sendiri, berdiri diatas kaki sendiri, tidak takut pada kemiskinan, tidak takut tidak berpangkat.
Tirto mengenyam pendidikan model Eropa, di masa kecil ia belajar di Europeesche Lagere School (ELS) kemudian ia melanjutkan sekolah dokter di STOVIA, pada waktu itu bangsawan yang melanjutkan ke sekolah STOVIA tergolong langka, karena merka lebih memilih sekolah persiapan untuk pegawai negeri sipil. Waktu sekolah di STOVIA ia tinggal di Betawi, yang jauh dari kultur masyarakat feodal yang selama ini membelenggunya. Dari sinilah kemampuan jurnalistiknya mulai tumbuh dan berkembang ia piawai dalam bidang jurnalistik dan pandai mengarang, karangan fiksinya antara lain; Cerita Nyai Ratna, 1909, Membeli Bini Orang, 1909, Busono, 1912. Selain itu berbagai macam pers yang ia dirikan antara lain; Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia.
Diwaktu muda ia terpengaruh oleh Wijbrands seorang pemimpin Pres yang piawai. Hebungan mereka relative singkat meraka berada dalam satu atab Pemberita Betawi. Dari Wijbrands Tirto berhasi menjadi pemuda yang dapat membuat presnya sendiri dan mampu mengelolanya dengan baik, selain itu ia juga mendapat motivasi untuk mempelajari hukum-hukum belanda yang memiliki keterbatasan. Dari proses inilah ia dapat mengetahui hak-hak dari masyarakat pribumi dan batasan-batasan kekuasaan Belanda.
Pers sebagai penyuluh keadilan
Setelah dirasa cukup menimba ilmu dan pengalaman, Tirto mendirikan persnya sendiri dengan dana dari harta benda yang ia miliki, selain itu ia juga mendapat suntikan dana dari bupati baik dan santun dri Cianjur. Dari proses itulah Soenda Berita berdiri pada februari 1903. Sewaktu Tirto masih menggeluti dunia tulis menulis milik asing, sudah terlihat jelas kekritisan dan keberpihakannya. Dalam tulisannya ia pernah membongkar skandal jabatan yang dilakukan oleh petinggi kolonial.
Setelah ia mampu mendirikan persnya sendiri ia tuangkan gagasan-gagasannya, memadukan dagang, pers, dan memajukan bangsa. Ia mampu mengorganisasi para petani, pedagang pinag, dan produksi desa, sehingga dapat meningkatkan pendapat ekonomi penduduk desa. Sampai ahirnya ia mendirikan Medan Prijaji tahun 1907,dalam surat kabar ini ada beberapa ide yang progresif. Ide-ide ini menjadi dasar dan tujuan dari didirikannya Medan Prijaji. Tujuan-tujuannya antara lain; meberikan informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum.

Dari aktivitas yang dilakukan Tirto Adi Soerjo mencerninkan kaum priyayi/bangsawan yang rela menanggalkan kelasnya, status sosialnya yang menurut dia “kontra produktif”, ia meninggalkan itu semua demi kemajuan bangsanya. Selaian itu ia tidak hanya berdiri ditengah jalan melainkan disisi kiri jalan bersama kaum pribumi yang masih dianggap sebagai setengah manusia yang hidupnya hanya bertugas memeras keringatnya sendiri. Dengan pena ia memimpin perjuangan bangsa untuk dapat menentukan nasibnya sendiri. Walaupun pada ujungnya pengasingan di lampung, dan itu adalah resiko yang ia dapatkan dari perjuangan yang ia lakukan dengan sadar. Perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya.

Senin, 16 Oktober 2017

Jangan Lupa, Ini Masalah Perut

Tidak banyak yang tahu bahwa hari ini tanggal 16 oktober merupakan hari pangan sedunia. Dalam memperingati hari pangan tidak ada demo massal seperti may day dan hari tani untut kesejahteraan. Media tidak begitu tertarik dengan isu ini, mereka lebih memilih menayangkan pelantikan gubernur Jakarta Anis - Sandi yang bertepatan dengan hari yang sama.

Memang hari pangan tidak datang dari perjuangan rakyat dan tidak ada organisasi sektoral yang spesialis untuk perjuangan pangan. Dalam sejarahnya isu ini datang dari  lembaga bernama Food and Agriculture Organization (FAO) yang merupakan salah satu lembaga dari organisasi elit dunia (PBB) ketika konferensi umum ke-20 bulan November 1979. Sehingga isu ini terkesan biasa-biasa saja dan tidak begitu penting untuk diperingati

Melihat dari tujuan diperingatinya hari pangan ini, sangat mulia. Yakni untuk meningkatkan kepedulian terhadap kemiskinan dan kelaparan serta ketahanan pangan. Seharusnya ini menjadi mementum untuk lebih merefleksi dan memperjuangkan kesejahteraan pangan.

Di Indonesia sendiri masalah pangan dan ketahan pangan masih menjadi persoalan bangsa yang seakan tidak kunjung selesai. Sampai hari ini masih banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Jangankan sejahtera, untuk hidup layak saja sulit. Mengingat kekayaan alam Indonesia yang begitu melimpah, seharusnya persoalan pangan bukan lagi menjadi persoalan rumit. Kita sudah tidak lagi memikirkan bagaimana hidup layak, tapi sudah membicarakan bagaimana meningkatkan kesejahteraan. Namun sampai hari masih banyak rakyat yang masih berfikir besok mau makan apa.

Pertanian yang menjadi sektor andalan dalam meningkatkan ketahanan  pangan, sekarang perlahan-lahan disulap menjadi batu-batu dan besi yang tidak bisa dimakan, sehingga rakyat kebingungan mencari sesuatu untuk dimakan.
Selain itu masih banyak persoalan pangan lainnya yang masih menjadi persoalan serius dan segera harus ditangani. Dalam momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk menuntut pemerintah lebih serius dalam urusan pangan. Karena ini persoalan pokok yang harus segera diselesaikan. 

Minggu, 15 Oktober 2017

RUMOR

Dulukala ada sebuah negeri yang sangat kaya, namun harus runtuh karena "RUMOR", kemudian masyarkat menjadi benar-benar miskin dan terbelakang.

Rumor itu mampu mengalahkan ribuan tentara tanpa harus mengangkat senjata, namun mampu menumpahkan darah dan menghilangkan jutaan nyawa. Rumor itu mampu menjadikan keluarga, teman, tetangga menjadi saling membunuh.

Rumor itu bergerak berlahan, menggrogoti sesuatu yang benar-benar menjadi tulang punggung sebuah negeri atau masyarakat, lalu bergerak menusuk hingga detak jantung tak berdetak. Tulang punggung itu adalah "Kepercayaan".


Kini, negeri itu sedang bangun untuk mengejar berbagai ketertinggalan. namun badai "Rumor" kembali mengantam. Apakah bangsa itu mampu bertahan dengan belajar dari kesalahan masalalu ?.... atau kembali runtuh seperti dulu ?,...



Sabtu, 14 Oktober 2017

GORENGAN ISU

Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan memori melawan lupa.

Sabda Kundera begitu memukau, karena mewakili peristiwa yang terjadi di ceko, saat tiang gantungan menjadi saksi bisu meregang nyawa mentri luar negri.

Dalam rentetan narasi sejarah Indonesia banyak sekali yang perlu di ingat dan untuk di pelajari, bukan untuk memojokkan golongan satu dengan yang lain. Namun yang terjadi demikian masalalu diseret kembali kedalam gelanggang politik sehingga bukan pelajaran yang didapatkan akan tetapi malah tambah memperkeruh keadaan.

Oktober sudah merangkak pada pertengahan, namun peristiwa mempeka-i-kan masih bersliweran di lini masa. Isu di goreng dengan renyah hingga masyarakat dengan lahap mengkonsumsinya tanpa perlu mempertanyakan gorengan ini bikinan "chef" siapa?

Masalalu di goreng ulang dan ditambah dengan bumbu dramatis agar lebih gurih dan lezat untuk dikonsumsi masyarakat, 65 menjadi menu tahunan yang tak kunjung selesai dihidangkan. Ditambah dengan pernyataan bangkitnya kembali partai yang telah di larang dengan 15000 anggota yang entah dari mana sumbernya.

65 menjadi tahun yang kelam, ribuan nyawa melayang dan banyak yang tak tau apa-apa menjadi korban. Tahta yang diraih setelah peristiwa itu syarat akan darah. Ini tragedi kemanusiaan yang haram hukumnya untuk dilupakan.

Ada yang ingin menolak lupa, juga ada yang ingin menolak ingat. Masing-masing pihak harus mendapatkan porsi sama agar semuanya terakomodir. Namun bukan persoalan mencari siapa yang benar, sejarah mana yang benar, semuanya mempunyai tafsir masing-masing sesuai kepentingan. Namun akankah kepntingan itu akan mengalahkan naluri kemanusian.





Jumat, 13 Oktober 2017

CITRA KARBITAN

Barangkali proses panjang tidak di perlukan untuk membuat seseorang menjadi lebih matang, karena zaman sekarang menuntut harus "sesegara" mungkin walau dengan cara karbitan.

Kita sering kali melihat tokoh yang entah bagaimana prosesnya tau-tau menjadi tenar, lebih parahnya yang mengidolakan juga banyak. Dan begitupun sebaliknya yang tenar pun mudah redup ditelan dengan kemilau bintang baru.

Dizaman sekarang untuk melakukan semua itu mudah tinggal pandai mempoles dan lewat trik sulap media yang akan mampu menghegemoni semua. Nah ini lah yang di namakan "citra karbitan".

Contoh: Ulamak, untuk mendapatkan gelar itu tak perlu kapasitas ilmu banyak, yang penting membeo saja dengan dalil-dalil yang entah itu kontekstual atau untuk kemaslahatan umat itu nomer dua, yang penting lantang, di bumbui dengan sikap menentang pemerintah. Contoh lain ketenaran artis sinetron kebanyakan tidak di topang oleh kemampuannya dalam ber akting, ini bisa disulap menjadi bintang dengan membuat hal-hal yang kontrovesrsi untuk menaikkan reting. Pun dalam dunia tarik suara.

Karena begitu cepatnya perubahan yang terjadi dari berbagai macam gojelak terciptalah keadaan yang mampu mengombang-ambingkan pikiran yang mudah goyah.

Agen sulap media di bantu dengan jembatan maya internet yang sanggup meretas jarak membuat manusia tak mampu berasumsi. Dengan kapital yang besar seluruh frame masa dapat disamakan. Jika terjadi perang frame inilah yang membuat masa menjadi kacau. Tak mampu membedekan mana yang benar.

Sedangkan elite intelektual suadah memperdagangkan otaknya dengan sekeranjang uang. Idealisme membusuk di otak hanya menghasilkan kangker yang sulit di sembuhkan.

Sementara massa butuh jalan terang untuk menitih hari esok yang lebih baik.

Kamis, 12 Oktober 2017

ANTARA SARANA PENDIDIKAN, WISATA DAN MOL

Ketika masuk gedung perpustakaan di kampus putih, terlihat banyak pengunjung, namun pengunjungnya rata-rata berwajah masam dan tua, dalam hati ini berkata, mereka pasti bukan maba, soalnya wajahnya tidak ada tampang gemesin seperti dedek-dedek maba. Ternyata prediksiku tepat, setelah aku tanya beberapa diantara mereka yang suram dan jenuh akan skripsi yang belum jadi-jadi.


Lalu dimana para dedek maba zaman now? Ya, mereka lebih suka di tempat wisata, mol-mol. Kalau tidak percaya cek saja, namun pernyataan ini bukan kemutlakan ini hanyalah observasi kecil-kecilan.

Pembangunan tempat wisata dan mol-mol sangat pesat ini berbanding terbalik dengan pembangunan sarana pendidikan dan penunjang pendidikan. Dan, generasi sekarang adalah generasi yang di besarkan dengan hegemoni kapitalisme lewat agennya pusat hiburan dan pusat belanja, di tambah lagi jargon-jargon "cah kurang piknik" "kurang ngemol" agar seolah-olah keduanya menjadi suatu keharusan.

Masih tidak percaya, buktikan saja, pasti di tempat hiburan dan pusat perbelanjaan kamu akan menjumpai mereka nongkrong disana.

Kalau zaman pra melenial pusat perbelanjaan seperti mol kan belum banyak, masak zaman dulu mau nongkrong di pasar tradisional, haha kan gak asik buat selpi-selpi lurr. Nah itulah sedikit perbedaan. Jadi, zaman sekarang dengan kemilau kapitalis akan membuat siapapun yang melihatnya akan ngiler dan yang pasti menjadi masyarakat konsumeris, hedonis, miskin cipta.

Dari itu bapak, tolong imbangi percepetan pembangunan wisata dan pusat perbelanjaan dengan sarana pendidikan dan penunjang pendidikan. Jadi, kalau bapak membangun perpustakaan yang megah jangan cuma satu, tapi sebarlah kalau perlu jejerkan pada setiap tempat wisata dan pusat belanja, biar para generesai gak cuma piknik, ngemol tapi juga giat belajar dan berprestasi membangun negri.

Rabu, 11 Oktober 2017

NGERUMPI ZAMAN NOW

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat membuat polah masyarakat terseok-seok meladeninya. Banyak hal positif dari kemajuan ini, namun terkadang di nodai dengan tangan jahil yang disetir oleh ambisi kuasa.


Kemajuan teknologi informasi di pakai untuk menebar kebusukan, dengan mengangkat isu SARA, sehingga keadaan ini gonjang-ganjing dengan gunjingan dari sumber Hoax yang tujuannya mendapat simpati publik dan diarahkan pada kepentingan tertentu.

Menurut Cherian George bahwa tujuan Hate Spin (ujaran kebencian)  adalah untuk membangun dukungan kelompok internal yang bersifat eksklusife dan merupakan bentuk politik identitas.

Fenomena ini menggejala dan tumbuh subur renyah dimakan publik karena publik sudah terbiasa dengan sajian gosip dan lemah literasi. Sajian gosib yang ditayangankan mengajarkan masyarakat menjadi tukang rumpi, kebiasaan gosip tanpa mengkonfirmasi dan menganalisa apakah hal seperti itu benar atau bohong. Budaya baca yang minim(mendapat urutan no 2 dari bawah di tingkat dunia) membuat kebiasan asal percaya karena lemah mengkritisi dan lemah berfikir logis.

Didalam sejarah islam pernah terjadi hal yang menggemparkan, kabar dusta (hadisul ifki) tentang perselingkuhan. Jadi hati-hati dalam mendapatkan kabar. Konfirmasi, cek dan analisa.

Baca dengan seksama jangan hanya doyan ngerumpi.