Laman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Revolusi Putih ala Pakde Bowo

Melalui adiknya Hashim Djojohadikusumo, Prabowo mengusulkan (lebih tepatnya sih memerintahkan) kepada Anis - Sandi untuk menerapkan Revolusi Putih di DKI. 


Revolusi Putih ala pakde Bowo adalah menggenjot tingkat konsumsi susu di kalangan masyarakat luas. Waww susu,, Kampanye ini sebetulnya sudah muncul sejak pemilihan presiden tahun 2009 silam ketika Prabowo Subianto menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri. Pakde Bowo memandang, dalam proses pembangunan SDM perlu adanya asupan gizi yang baik. Dalam hal ini diterapkan kepada pelajar dari SD - SMA, mungkin untuk mahasiswa sudah bisa nyari susu sendiri,. 

Pada dasarnya revolusi putih ini hampir sama dengan revolusi mental ala pakde Jokowi, sama - sama untuk pembangunan SDM. 

Namun ide pakde Bowo ini banyak yang tidak setuju. Ada yang memandang tidak relevan dengan kondisi saat ini. Salah satunya  Menteri Kesehatan Nila F Moeloek. Nila menilai, program bagi-bagi susu kepada anak-anak itu tidak akan optimal. 
"Saya agak enggak setuju. Susu kalian tahu dari mana? Dari sapi. Cukup enggak sapi kita? 250 juta penduduk mesti dapat dari mana," kata Nila di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (26/10/2017). Nila lebih sepakat dengan menteri Susi yang juga pernah mengkritik revolusi putih  ala pakde Bowo dan mengusulkan "susinisasi".

Apa itu 'Susinisasi'?

Istilah 'Susinisasi' ternyata merujuk pada namanya sendiri sebagai Menteri KKP yang sedang mengampanyekan gerakan makan ikan nasional.

"Susinisasi itu maksudnya makan ikan. Jadi bukan minum susu saja, tapi makan ikan diperbanyak dong," ujar Susi saat berbincang santai dengan wartawan di Ruang VIP Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jumat (21/10/2017).

Gerakan minum susu memang kurang relevan untuk saat ini, mengingat sampai hari ini susu aja masih impor. Sebagai gladiator yang siap masuk gelanggang pada 2019 mendatang, memang harus sering mengeluarkan ide dan gagasan, kali aja menarik. Kita tunggu apakah revolusi putih ini juga menjadi jargon pakde Bowo pada pilpres mendatang.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Apa Kabar Pemuda..!!!

Pemuda itu semangat
Pemuda itu kuat
Pemuda itu kreatif
Pemuda itu cerdas
Pemuda itu berani
Pemuda itu kritis
Pemuda itu rajin
Pemuda itu ramah
Pemuda itu solider
Pemuda itu humoris
Pemuda itu peka
Pemuda itu tanggap
Pemuda itu pembangkang


Pemuda itu memiliki semuanya, wajar kalau pemuda menjadi tulang punggung dalam sebuah negara. Indonesia menitipkan masa depan yang  lebih baik kepada pemuda. Dilain sisi pemuda juga menjadi musuh utama bagi penguasa yang zholim. 

Dalam proses dinamika kehidupan manusia, pemuda sudah berhasilkan mencatatkan prestasi pada eranya masing-masing dalam buku sejarah. Di Indonesia sendiri misalnya,pada generasi pra kemerdekaan mampu mengkristalisasi semangatnya dalam sumpah pemuda yang selalu di peringati pada 28 Oktober. Pemuda generasi 98 yang diwakilkan oleh mahasiwa juga sudah mengkristalisasi semangatnya dalam sumpah mahasiswa. Dan masih banyak yang sudah pemuda lakukan dalam sejarah. 

Sampai hari ini masih relevankah defenisi pemuda menjadi sosok manusia yang istimewa.? Dalam rentan waktu 20 tahun terakhir, apa yang sudah dilakukan pemuda?.Kemana pemuda yang selama ini selalu risih dengan keadaan yang semakin hari semakin runyam??.  

Hari sumpah pemuda menjadi momentum yang pas untuk melakukan refleksi, oto kritik serta merekonstruksi kembali pemuda yang selama ini hampir keluar dari jalur semangat sumpah pemuda. Tetap menjadi pemuda jaman now, dan tidak lupa dari khittohnya pemuda.

Selamat hari sumpah pemuda.!!!

Jumat, 20 Oktober 2017

ISLAM AKULTURASI

Islam hadir di Indonesia dengan misi Revolusi pemikiran tanpa menanggalkan paham dan adat lama. Kehadiran Islam ini berjalan dinamis dan lentur, dalam artian, Islam datang sesuai dengan kondisi masyarakat dapat dilihat dari bentuk simbolis. Seperti kata shalat menjadi sembahyang. Bentuk arsitektur seperti bangunan Masjid yang menyerupai bangunan Hindu-Budha.

Dalam proses Islamisasi dapat disimpulkan Islam berbeda dari negara aslinya, yang mana menurut Kuntowijoyo, Islam mengalami Indonesiasi. Ketika dosis islamnya lebih besar maka yang terjadi konserfatif sebaliknya ketika dosis rendah mengalami sinkretis. Atau meminjam bahasa C. Geertz: Islam Abangan dan Islam Priyayi yang mana dosis Islam dari keduanya sangatlah rendah, sehingga cara beragamanya bercorak Animistik dan menekankan aspek-aspek Hindu.

Manifestasi dari prilaku beragama masyarakat, dapat dilihat dari praktek beragama seperti pesta-pesta ritual yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk mengusir roh jahat yang dianggap sebagai sumber bencana. Dapat juga dilihat dari sistem yang berkaitan dengan etik, tari-tarian dan berbagai bentuk kesenian, bahasa dan pakaian yang biasanya dipraktekkan oleh golongan Priyayi.

Secara kuantitatif proses islamisasi di Indonesia dapat disimpulkan sudah lama selesai, kususnya di wilayah Jawa. Sebagai bentuk prestasi dari dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo. Ini dapat dilihat dari sensus penduduk dari tahun ke tahun yang membuktikan Islam menjadi mayoritas sampai sekarang.

Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah masalah kadar intensifikasi penghayatan Islam sebagai ruh dalam cara hidup beragama masyarakat pada umumnya. Yang terjadi adalah ekspresi keagaamaan yang beragam sesuai dengan tingkat penghayatan dan campuran budaya lokal. Yang menjadi persoalan adalah jika perbedaan ini dijadikan dasar mem'bidah'kan, mengkafirkan. Keberagaman harus diyakini sebagai rahmah tuhan, kalaupun berbeda, bersebarang diselesaikan dengan dialog.

Selasa, 17 Oktober 2017

BERDAKWAH DENGAN RAMAH 'GAK PAKE MARAH'

Masyarakat Indonesia termasuk yang jumlah penganut Islamnya sangat besar jumlahnya. Saya sebagai penganut Islam juga bangga melihat kuantitas yang wow, berarti ini merupakan keberhasilan dakwah dari da'i-da'i yang tanpa kenal lelah menyerukan kepada manusia menuju kebaikan. Da'i adalah kata kerja yang tercetak dari kata benda dakwah yang berarti menyeru mengajak dll.

Di sejarah nusantara kita mengenal sunan kali jaga yang menyelam pada lautan tanpa ikut arus, beliau yang menggunakan metode akulturasi budaya lewat wayang yang diberi nafas Islam agar lebih halus dalam mengajak kepada keimanan. Seperti yang masih bisa kita saksikan sampai hari ini adalah tradisi sekaten, yang sebenarnya adalah dua kesaksian kepada tuhan dan rosulnya. Konon kalau ingin menonton wayang tiketnya dengan mengucapkan dua kalimat sahadat, dalam bahasa arab di sebut "sahadatain" dalam bahasa jawa di sebut "sekaten".

Meminjam pak Kunto "dakwah ibarat menarik rambut dari tepung" tanpa harus merusak tepung itu, kebaikan bisa terlaksana bahkan bisa menciptakan revolusi sosial-kultural sekaligus religius tanpa harus merusak, memaksa, bahkan persekusi. Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Tentunya dengan cara yang elegan seperti yang terkandung dalam Al-Nahl (16): 125 "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari JalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Demikian pula cara dakwah yang ramah lingkungan juga di terapkan oleh mbah Hasyim. Ketika pada tahun 1899 KH Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng setelah kepulangan beliau menuntut ilmu dari Mekkah. Tebuireng adalah sarang perjudian, pencurian, pelacuran, potret sebuah desa yang penuh dengan masalah-masalah sosial. Akan tetapi, justru di tempat itulah KH Hasyim Asy'ari bersama istrinya, Nyai Khodijah, mendirikan sebuah ruang berukuran 6x8 meter berdinding anyaman bambu (gedheg) untuk kegiatan pengajian. Kotak ruang itu kelak pernah dilempari batu hingga senjata tajam oleh perampok di sekitar lokasi yang sama sekali belum kenal agama, namun berkat kesabaran dan kepercayaan KH Hasyim Asy'ari bahwa pendidikan akan mengubah semua sektor kehidupan manusia, kini Tebuireng adalah pusat belajar ilmu Islam sekaligus ilmu moderen yang paling disegani di Indonesia.(Kalis). Beliau menggunakan pendidikan sebagai dakwah, hasilnya sangat wow, akan tetapi butuh keteguhan hati dan kesabaran. Karena memang revolusi memang tak segampang yang kau teriakkan.

Gambaran lain


Ahir-ahir ini, kita sering mendengar pengajian yang di isi oleh da'i-da'i keras, radikal, dan sering menebarkan kebencian. Padahal Islam kan ramah

Diksi seperti bakar, gantung, serta hujatan yang di tembakkan kepada golongan/kelompok dan pada figur tertentu sudah menjamur di berbagai macam pengajian bahkan pada saat khutbah jum'at. Tampaknya memang situasi saat ini sengaja menggandeng agama untuk dukungan politik, agennya adalah para da'i, "da'i politik".

Da'i politik, ia yang selalu pada setiap acara keagaman mengkhutbahkan isu-isu yang mengarah menjelekkan bahkan menghujat lawan politiknya. Bisa lewat ceramah-ceramah langsung ataupun via (youtube), juga lewat tulisan-tulisan. Mendeteksinya gampang, mereka menggunakan agama sebagai "prolog" saja, selebihnya isinya makian, hujatan, dan kata-kata kasar lainnya. Dan selalu memanaskan situasi, khutbah-khutbah tidak selesai di majlis ataupun masjid-masjid, di bawai sampai ke jalan-jalan. Tujuannya menciptakan suasana menjadi gaduh dan menarik emosi keagamaan.

Bukan tidak boleh para da'i membicarakan politik, akan tetapi jangan sampai membawa "madlorot" bahkan mengancam persatuan. Berpolitik yang bisa menciptkan "bonum commune" atau kesejahtraan bersama, jangan hanya ambisi kuasa, bangun politik yang berlandasakan menimbang manfaat, keadilan, bukan hanya menjatuhkan lawang demi menang.

Menceramahkan pengajian politik, boleh-boleh saja, asal tidak semata-mata demi kekuasaan, menurut pak Kunto mencampurkan dua hal tersebut bagaikan membuat "kolak", orang dapat mencampur kolang-kaling dengan kelapa asal santennya cukup. Karena jika ada yang melebihi dari yang lain hasilnya akan tidak kemakan.Maksut ingin mengajak kebaikan namun berujung penolakan.

Berdakwalah dengan cara yang ramah, jangan marah-marah.

Minggu, 07 Oktober 2012

Fitrah Agama Bagi Manusia

Image result for agama di dunia

Fitrah Manusia
Manusia ketika dilahirkan kebumi, tidaklah ada yang dilahirkan dengan langsung menggunakan pakain, dan secara ilmiah itu tidak mungkin terjadi. Lalu dari mana pakain yang manusia kenakan sekarang ?, anak kecil pun tahu kalau pakain yang ia kenakan, adalah dari orang tua atau keluarganya, karena merekalah yang pertama kali memakain baju kepadanya.
Lalu apa yang  sebenaranya dibawa oleh seorang bayi ketika dia lahirkan kedalam dunia ini,  :
Diriwayatkan oleh Muttafaq Alaih bahwa :

ما من مولود يولد علي الفطرة فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه (رواه متفق عليه)

Artinya: Tiada manusia lahir (di lahirkan) kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikan dia (kafir) Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi”,   (Muttafaq Alaih)

Hadist diatas kemudian diperkuat lagi dengan hadist yang diriwayatkan oleh HR Bukhori bahwa hadist diatas benar :
كل مولود يولد علي الفطرة حتي يعرب عنه لسانه فابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه           ........................................................ (رواه ابي يعلي و الطبراني و بيحقي)   

Artinya: setiap anak dilahirkan sesuai dengan fitrah, sehingga ia lancar lisanya (berbahasa). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia kafir Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi.

Penjelasan :
  "فابواه" dalam konteks ini memiliki arti orang tua, namun makna yang dihendaki yaitu : lingkungan, maksud lingkungan dalam konteks ini mencakup, orang tua, saudara, ras, suku, budaya, dan bahkan orang – orang yang di idolakan. Jadi jelas bahwa yang membentuk manusia menjadi muslim, nasrani, atau yahudi adalah lingkungan bukan sebuah takdir atau tiba-tiba saja.[1] Bendapat ini diperkuat oleh aliran empirisme dengan konsepnya “tabula rasa”sebuah istilah latin yang berarti batu tulisan kosong atau lembaran kosong.[2] Yang berarti bahwa tidak satupun yang dibawa oleh manusia ketika lahir, seperti kertas kosong, pengetahuan, agama dsb-nya adalah pengaruh dari lingkungannya.
Selanjutnya, Fitrah dalam pengertian diatas yang dimaksud adalah bahwa fitrah manusia itu beragama tauhid, maksudnya  bahwa pengakuan hati akan adanya Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan fitrah pembawaannya dari lahir karena manusia memang diciptakan dengan sifat bawaannya.[3]
Dalam al-Qur’an Surat Ar-rum ayat 30  menjelaskan makana fitrah yaitu :
Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptaan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya[4].

Kata fitrah dalam ayat ini mempunyai beberapa arti, seperti di dalam kamus al-Munawwir, kata fitrah diartikan dengan naluri (pembawaan). Dalam kamus susunan Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli. Dalam kamus bahasa Indonesia susunan WJS Purwadarminta, kata fitrah diartikan dengan sifat asli, bakat,pembawaan, perasaan, keagamaan (misalnya: agama yang tidak selaras dengan kemajuan yang sehat, bukanlah agama fitrah namanya). Dalam kamus al-Munjid kata fitrah diartikan dengan agama, sunnah, kejadian, dan tabiat. Kamus Indonesia-Inggris susunan John Echols dan Hasan Sadili mengartikan fitrah dengan natural, tendency, desposition, and character.
Menurut hemat kami pengertian diatas bahwa fitrah menunjukan kepada sebuah naluri manusia tentang keyakinan yang benar, yang dapat dilihat, dirasakan dan dibuktikan kebenarannya, karena pada dasarnya manusia selalu mencari suatu kebenaran yang memang benar mutlak tanpa diragukan lagi, karena kebenaran itu indah, kebneran itu kebahagiaan, kebenaran itu kedamain, dan inilah yang diingankan oleh setiap naluri manusia. Contoh : Seorang filusuf yang bernama Galileo yang mengungkapkan kebenaran yang berlawan para pendeta gereja, yang menyebabkan ia dibunuh karena berbeda pendapat dengan gereja. Adalah bukti bagaiamana seorang mencintai suatu kebenaran sehingga tetap mempertahankan walau dihukum mati.
Namun menjadi masalah, ketika akal pikiran manusia itu tidak sehat dan dibuat menajdi tidak sehat dalam mendapatkan, dan membuktikan kebenaran, maka akan terjadi kekacaun, bukan kebenaran yang didapatnya melainkan kebohongan yang besar yang selimuti kebenaran hegemonik yang bersifat dogmatik,[5] yang membuat manusia tenggelam pada pembenuhan akal, yang berakibat akan menyepelekan dan mengabaikan kebenaran itu sendiri dan menyerahkan semua itu kepada suatu lembaga atau sesok yang dipercayai. Dengan itu Al-qur’an menantang keras ketaatan dan kepatuhan yang membuta kepada leluhur mereka.
Lebih tegasnya Allah menjelaskan disurat Al-Baqarah  ayat 170

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapatpetunjuk. 

            Meskipun ajaran-ajaran Al-Qur’an didasarkan atas otoritas yang suci, namun seringkali masih juga perlu dicari dan ditunjang dengan akal fikiran untuk melahirkan keimanan yang kuat.[6] Sehingga itu manusia dituntut untuk menggunakan akal fikirannya dengan baik, sehingga mengetahui bahwa apakah yang dikandung injil, taurat, al-qur’an  dsbnya, yang dibawa agamanya masing – masing itu dapat dibuktikan dengan benar-benar secara mutlak yang berlaku dalam konteks sekarang yang menjadi jalan, tuntunan (agama) manusia, agar selamat. Atau tenggelam terbawa zaman karena ketidak tahuan, namun enjoy untuk melakukan itu semua, seperti apa yang diajarkan oleh seseorang yang dianggap percayai tanpa kita mengkritisi dan menggali lagi kebenaran yang tersembunyi itu.

             Peran Lingkungan
Menurut ilmu sikologi bahwa manusia bukan saja tumbuh namun mengalami  perkembangan, baik secara jasmaniyah dan rohaniyah, dan lingkunganlah yang memiliki peran penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan manusia itu sendiri seprti pembahasan diatas.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia dari bayi hingga dewasa mengalami proses pendidikan, dimana pendidikan itu bersumber dari agama dan pengetahuan, yang dapat dipetanggung jawabkan kebenaran atau hanya sebuah ritual pemahaman yang diwariskan. Disinilah pendidikan yang diberikan oleh lingkungan membentuk manusia itu, yang kemudian menjadikan manusia itu apakah beragama islam, yahudi, atau nasrani.
Menjadi salah kaparah, jika pendidikan yang diberikan itu membunuh akal manusia, dengan menyembunyikan kebenaran itu, dan memebuat kebenaran yang bersifat dogamtis. Selain itu pendidikan menjadi rusak ketika dipergunakan untuk memepertahankan satutus dan eksistensi saja. Kebohongan yang membelegu ini, sangatlah bahaya, yang nantinya akan menjadikan manusia-manusia tidak mengenal dealektika dan akan semakin jauh dari fitrah manusia. Ketika pendidikan yang diajarkan jauh dari fitrah manusia, Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini, akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan ?.[7]
            Peran orang tua dan lingkungan sangatlah besar kontribusinya dalam menentukan arah terhadap seorang manusia kembali kepada fitrahnya, apakah agama yang diperolehnya itu hanya sebuah warisan atau benar-benar ia yakini kebenarannya. Dan semua itu adalah sebuah proses yang panjang dari sebuah manusai yang nantinya akan membentuk arah seorang anak.
Dalam Hadis yang di riwayatkan oleh bukhori, dijelaskan bahwa :

حديث عبد الله بن مسعود قال . قال رسول الله صلي الله عليه و سلم وهو صادق المصدوق , قال ان احدكم خلقه في بطن امه اربعين يوما ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم  يبعث الله ملكا فيعمر باربع كلمات, فيقال له : اكتب مع عمله ورزقه واجله وشقى اوسعيه ثم ينفخ فيه الروح............ (رواه البخا رى)

Artinya: hadis abdulloh bin mas’ud berkata, rosulullah saw. Ia adalah benar dan dibenarkan, beliu bersabada: sesungguhnya diantara mu sekalian, kejadiannya adalah dalam kandungan ibu selama empatpuluh hari, lalu menjadi darah yang keras, selama empat puluh hari juga, lalu daging keras selama empat puluh hari juga, kemudan allah mengutus malaikat, maka dia diperintahkan tntang empat kalimat (ketentuan). Dikatakan kepadanya: tulislah amalnya (manusia), rizkinya, matinya,dan nasib rugi untungnya, kemudian dimasukkan kepadanya ruh atau nyawa. (HR Bukhori).
Penjelasannya :
Dalam hadis dijelaskan bagaimana proses berlangsung pembentukan manusia, yang sebelumnya juga dijelaskan dalam Al-qur’an surat Al-alaq ayat 2, namun disini lebih dijelaskan lebih detail tahap demi tahap.
Hadis ini juga menjelaskan secara tersirat bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak, itu bertahap – tahap, dan itu semua bersifat ilmiah dan harus dijelaskan – sejelasnya, yang nantinya tidak melahirkan sebuah dogma, namun sebuah dealektika terhadap kondisi dan lingkungan yang da sesuai dengan pemahaman mereka, dan itu semua tidak dipaksakan. Dalam buku Muhibbin Syah yang berjudul Psikologi pendidikan, bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak itu melalui tahap, ia membaginya dengan empat tahap yaitu : 1. Fase bayi dan anak – anak, 2. Fase remaja 3. Fase dewasa, fase setengah baya dan, 4 fase tua. Yang menunjukan bahwa pola yang diberikan terhadap anak itu harus memiliki tahap demi tahap yang semua itu membimbing mereka terhadap fitrah mereka.
Adapun bentuk pendidikan  yang diberikan sebagai contoh yaitu :
1.      Mendidik
اطلب العلم من المهد الي اللحد
Artinya: tuntutlah ilmu dari masa ayunan sampai di ujung lubang ( HR. Ibnu Abdil Bar).

Hadist diatas mengandung makna tuntutlah ilmu dari dalam rahim sampai liang lahat akan tetapi, menuntut ilmu secara aktiv belumlah dapat dilakukan oleh anak di dalam kandungan. Ia hanya merangsang dengan beberapa stimulus yang disusun secara sitematis edukativ oleh karena itu pendidikan dilakukan oleh orang tuanya. Berusaha menciptakan suasana yang sakinah dalam kehidupan rumah tangga, dengan menanmkan kejujuran, dan sifat kritis. Banyak melakukan ibadah, baca Al-Quran, bersodakoh, dan amalan-amalan baik lainya serta brusaha denga sungguh-sungguh utnuk menjauhi ‘aamalan-amalan buruk. Mendoakan terus menerus agar anknya menjadi anak yang soleh. Berusaha merawat kandungannya dengan sebaik-baiknya di jaga kesehatanya di beri makanan yang halal dan bergizi serta dijauhkan dari segala yang membahayakanya.[8]
Mengajarkan anak membaca Al-Quran.
Dalam sebuah hadist disebutkan:

خيركم من تعلم القران و علمه
     Artinya : sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengamalkan Al-Quran.
       Orang tua wajib mengajarkan Al-Quran kepada anknya, namun apabila orang tua yang terlanjur tidak dapat mengaji Al-Quran tidaklah boleh di jadikan alasan untuk membiarkan dirinya buta huruh Al-Quran. Mereka dapat memulai belajar mengaji kepada orang-orang yang mahir mengaji Al-Quran.[9] Sehingga ia mampu membuktikan apakah, agama yangdiberikan itu hanya sebuah warisan omongkosong atau kebenaran yuang benar dapat dibuktiakan, yang nantinya akan memperkuat keimanannya.

        Kesimpulan

1.      Apakah menjadi muslim itu karena faktor keturunan ?
Pada awalnya, apapun agama kita, itu semua faktor keturunan. Namun ketika tumbuh dan berkembang dan sudah mampu menggunakan akal yang baik, maka agama bukan lagi menjadi sebuah faktor keturunan, melainkan pencarian dan pembuktian. Al-qur’an dan hadis yang menjadi pondasi agama islam menjelaskan sangat penting akan kesadaran kritis, dalam memahamii sebuah agama, bukan hanya berdasarkan keturunan saja. Tetapi kita harus benar-benar membuktiakan dan meyakini akan pilihan agama yang diwariskan kepada kita. Apakah benar atau salah.
 
2.      Apa peran dan tanggung jawab orang tua terhadap anak?
Peran orang tua dan lingkungan sangatlah besar, dalam proses penemuan jati diri seorang anak, disinalah peran orang tua dan lingkungannya membimbing seorang anak hingga tumbuh dan perkembang. Sehingga apa yang diberikan baik berupa agama atau pengetahuan itu bukan sebuah dogma, melainkan pendidikan yang diberikan adalah sebuah kesadaran yang kritis bukan mistis dan juga bukan naïf pula, dimana yang bertujuan memanusiakan manusia, yang akhirnya ia dapat menggunakan akal sehatnya memilih mana yang benar dan mana ia yang harus yakini, dan itu kemudian menjadi tanggung jawab seorang anak.


DAFTAR PUSTAKA

____Budiyanto, Mangun. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Griya Santri. ____Thalib. 1996. 50 Pedoman Mendidik Anak menjadi solih. Bandung: Irsyad Baitul Salam.
____Al Quran
____ Leaman Oliver, Pengantar Filsafat Islam, Cv Rajawali 1989, Jakarta
____Muhibbinsyah, psikologi pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung
____Juwariyah, hadis tarbawi, Teras, Yogyakarta
____ W.Said Edward, Orientalisme,Pustaka Pelajar, 2010, Yogyakarta
____ WS-Rendara, Sajak Pertemuan Mahasiswa.




[1] Takdir disini bermakna bahwa yang menentukan manusia itu beragama yahudi, nasrani atau majusi bukan Allah sang pencipta
[2] Muhibbinsyah, psikologi pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, hal 44
[3] Juwariyah, hadis tarbawi, Teras, Yogyakarta, Hal 3-4
[4] Al Quran Surat Ar-Rum Ayat 30
[5] Pemikiran gramsci dalam bukunya Edward berjudul oriantalis dijelaskan bahwa gagasan tertentu saja yang bersifat dominan yang mempunyai pengaruh besar yang digunakan dari pada gagasan yang lainnya, hal semacam ini diinditifaksi adalah bentuk hegomini
[6] Leaman Oliver, Pengantar Filsafat Islam, Cv Rajawali 1989, Jakarta hal 18
[7] Sajak Pertemuan Mahasiswa. WS-Rendara
[8] Budiyanto, Mangun. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Griya Santri. Hal: 113
[9] Thalib. 1996. 50 Pedoman Mendidik Anak menjadi solih. Bandung: Irsyad Baitul Salam. Hal : 80