Laman

Senin, 05 November 2012

Lunturnya Semangat Pembaharuan Pendidikan Islam


      
      Dalam buku yang berjudul “ Pesantren Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam Dalam Kurun Modren”, membicarakan tentang perubahan dan isi pendidikan islam di Indonesia yang tidak terlepas dari tuntutan perkembangan zaman yang dihadapinya. Hasil karya karel a. steenbrink dengan tebal 284 halaman dengan penerbit LP3ES, yang diterbitkan di Jakarta, dicetak pada tahun 1986. Merupakan hasil penelitian yang dilakukan dengan pendekatan antropologi, sosiologi dan historis, memiliki kevalidan yang sangat baik. Sehingga bisa dijadikan refrensi sebagai pijakan dalam melihat pendidikan islam secarah utuh.
            Dewasa ini, pendidikan nasional, telah menjalankan kombinasi yang mana ada pendidikan agama dan pendidikan umum yang telah bersatu menjadi sebuah system berupa teknologi yang digunakan dan kurikulum/materi yang diterima oleh para peserta didik yang diterima sekolah, madrasan dan pesantren madrsah. Namun dalam naungan departeman yang berebeda yaitu departemen agama dan departemen pendidikan, yang sekarang menghasilkan setigama, adanya dualism system dalam pendidikan Indonesia.  Tentunya system yang terbangun sekarang memiliki latar belakang yang cukup panjang dan rumit. Disinalah karel a. steenbrink berusaha menggambarkan, tentang apa yang menjadi pondasi pendidikan sekarang.
Ketika belanda datang ke indonesia, islam sudahlah berkembang pesat, sehingga  system pendidikan islam sudah ada, namun masih bersifat tradisonal. Oleh karena itu belanda datang dengan menerima kebudayaan asli indonesia, namun dalam mengembangkan sistem pendidikan kolianal, dia memilih untuk tidak menyesuaikan dengan pendidikan islam dengan alasan karena metode yang digunakan hanya menghandalkan hafalan, dan minim terhadap pemahaman karena itu adalah kebiasaan jelek. Yang dimaksud dengan kebiasaan jelek itu terutama adalah metode membaca teks arab yang hanya dihafal tanpa ada pengertian.[1]
Namun berebeda dengan sekolah zending (salah satu bentuk sekolah kristen) mendapatkan subsidi dari kolonial karena sistem sekolah yang diajarkan sedikit sudah pada pengetahuan (diminahasa, maluku) yang kemudian mudah diperbaiki untuk gabung dengan sistem gaberment, ( pemahaman dan pembelajaran sekolah zending menggunakan bahasa melayu, dan tidak serumit bahasa arab)
Pada abad pertigaan 20, belanda menolak secara tegas untuk mengadopsi pendidikan islam (pesantren) karena alasan politik dan kesulitan dalam penyesuainnya, walaupun biaya yang digunakan pendidikan islam relatif rendah, karena mereka membiayai sendiri.
Dalam perkembangannya, kondisi yang ada pada saat itu membuat pendidikan islam mulai melakukan pembaharuan, dengan faktor pendorong sebagai berikut. Faktor pendorong penting bagi perubahan islam di Indonesia pada permulaan abad ini dapat dibagi menjadi 4 hal yaitu :[2]
1.      Semenjak tahun 1900 dibeberapa tempat muncul keinginan untuk kembali pada Qur’an dan sunnah yang dijadikan titik tolak untuk menilai kebiasaan agama dan kebudayaan yang ada. Tema sentral dari kecendrungan ini adalah menolak taqlid.
2.      Dorongan kedua adalah sifat perlawanan nasional terhadap penguasa kolonial belanda.
3.      Dorongan ketiga adalah usaha yang kuat dari orang-orang islam untuk memperkuat organisasinya dibidang sosial ekonomi.
4.      Dorongan keempat berasal dari pembaharuan pendidikan islam. Karena cukup banyak orang dan organisasi yang tidak puas  dengan metode tradisional dalam mempelajari Qura’an dan Sunnah
Dari empat pokok penting yang melatarbelakangi semangat yang melakukan pembaharuan, terlahir sebuh pemikiran yang maju, untuk membenahi keadaan pendidikann islam pada saat itu. Maka terlahirlah pemikiran untuk memperbaiki system pesantren yang konserfativ  dan tertinggal dengan menggantinya dengan konsep yang lebih maju, dengan memadukan pendidikan agama dan umum, yang sekarang dikenal madrasah. Munculnya madrasah menurut para sejarawan pendidikan sebagai salah satu bentuk pembaruan pendidikan Islam di Indonesia. Alasannya adalah secara historis awal kemunculan madrasah dapat dilihat pada dua situasi; adanya pembaruan Islam di Indonesia dan adanya respon pendidikan Islam terhadap kebijakan pendidikan Hindia Belanda.[3] Dari sini dapat diartikan bahwa munculnya madrasah mengandung kritik pada lembaga pendidikan sebelumnya, yakni pondok pesantren. Dapat dikatakan munculnya madrasah sebagai usaha untuk pembaruan dan menjembatani hubungan antara sistem tradisional (pesantren) dengan sistem pendidikan modern. Dan hal ini juga merupakan sebagai upaya penyempurnaan terhadap sistem pendidikan di pondok pesantren kearah suatu sistem pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah yang umum.
Kemunculan madrasah dipandang menjadi salah satu indikator penting bagi perkembangan positif kemajuan prestasi budaya umat Islam, mengingat realitas pendidikan, sebagaimana terlihat pada fenomena madrasah yang sedemikian maju saat itu, adalah cerminan dari keunggulan capaian keilmuan, intelektual dan kultural. oleh karenanya timbul kebanggaan terhadap madrasah, karena lembaga ini mempunyai citra ”eksklusif” dalam penilaian masyarakat. Karena dalam catatan sejarah, madarasah pernah menjadi lembaga pendidikan par excellence di dunia Islam.
Dengan tercipta madrasah sebagai hasil pembaharuan pendidikan islam, maka hancurlah dikotomi ilmu, anatara ilmu agama dan umum. Namun dengan begitu timbulah masalah baru yaitu dualisme system. Selain itu pendidikan islam yang bermodel madrasah dan pesantren madrasah belum melihatkan hasil yang begitu progesifnya dalam menyelsaikan masalah-masalah yang ada dimasyarakat, seperti  : kemiskinan, kebodohan, keboborokan moral, dan sedikitnya melahirkan generasi yang vision. Tentunya hal tersebut menjadi pertanyaan hal yang besar, apa yang terjadi sebenarnya dalam pembaharuan pendidikan islam, apakah mengalami stagnasi, yang kemudian larinya dari cita-cita luhur, yang menjadi harapan umat, dan dimana semangat pembaharuan pendidikan islam.
Meskipun semuanya sudah dijalankan dengan menggabungan system barat dan islam, namun yang terjadi hanyalah sebuah karikaturnya saja, yang sampai sekarang karikatur itu belum mendapatkan wujud yang nyata.  
Isma’il Raji menjelaskan secara tegas bahwa yang merusak para generasi untuk bangkit dan mengejar ketertinggalannya adalah kurikulum yang tidak pernah berhubungan dengan realitas dan modrenitas, hal ini telah dipikirkan dan dirancang oleh-oleh ahli-ahli strategi kolinial.  Sehingga semangat pembaharuan islam, yang berpondasi wawasan, hanyalah isapan jempol saja. Selain itu kesiapan Negara dan pendidikan islam, dalam memobilisasi dan mengarahkan para generasi untuk terus melakukan pembaharuan dengan semangat menolak taqlid, sepertinya mulai redup, dan ketidak siapan negaran dan pendidiakan islam dalam memobilisasi ini mengakibatkan kekacuan dimana-diamana, seperti meludaknya para pelajar yang tak terencana, masih menghasilkan kemiskinan  dimana-mana (pengangguran), kebodohan, kerusakkan moral dsbnya. Dialain itu system yang diciptakan merata dan umum berlaku mengenai materi yang diterima, tanpa melihat kontekstual, menciptakan stagnasi wawasan yang dimiliki, sehingga yang terjadi hanyalah copy-paste pengetahuan yang terselubung.
Keritik terhadap buku ini, seedikit menjelaskan bagaimana pengaruh pendidikan kolinial dalam pembentukan generasi bangsa ini. Sedikitnya penjabaran mengenai pendidikan materi gaberment setiap daerah yang seharus sebagai pembanding dan tolak ukur berapa jauhnya pendidikan islam dalam memahami pendidikan gaberment atau kolonial.




Daftar Pustaka
-         Maksum, Madrasah : Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999)
-         Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah SekolahPendidika Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta : LP3 ES, 1994).
-         Isma’il Raji al Faruqi, Islamisasi Pengetahuan,( Bandung : Pustaka,1995)










[1] Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah SekolahPendidika Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta : LP3 ES, 1994). Hal 2
[2] Ibid hal 26 - 28

[3] Maksum, Madrasah : Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), hal 82

0 komentar: