Laman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 10 Oktober 2017

TIPS MENULIS

Nongkrong semalam begitu sahdu, kopi, rokok dan tema obrolan yang tak pernah terkurikulumkan membuat kita malas beranjak, mentok-mentok menggeser bokong.

Tema semalam tentang menulis, sebagai orang yang hanya tau sedikit tentang menulis dan hasil tulisannya juga carut marut seperti ceker ayam, saya mencoba memberikan ide-ide saya yang sama sekali tak brilian tentang menulis, maklum dah hampir seluruh tulisan yang pernah saya kirim dan hasilnya, tentu saja di tolak.

Image result for tips menulis

Dari obrolan semalam sentral dari kegelisahan kawan-kawan adalah malas memulai, malu menuangkan gagasannya, dan kurang memahami arti pentingnya.

Hal yang paling susah adalah memulai, mau memulai dari mana? Dan apa yang harus di tulis? Dan untuk apa sih? toh tidak menghasilkan uang.

Memulai dari mana?

Mulailah dengan hal yang sederhana, dengan melatih logika dalam menulis, misalnya dengan mereview aktivitas sehari-hari " pagi yang cerah penuh harapan, dengan semangat mencari ilmu ku langkahkan kakiku menuju ruang kelas, eh dosennya absen, katanya lagi ada panggilan seminar keluar kota. Padahal aku berharap ia di panggil yang Mahakuasa." Itu contoh sederhana.

Apa yang harus di tulis?

Yang harus ditulis adalah hal yang kamu kuasai dan km sukai, kalau menulis hal-hal yang tidak km kuasai dan sukai pasti hasilnya kopi paste, terbukti kan tugas makalah dari dosen, karena tema makalah tidak km kuasai dan kuasai. Mulailah dengan tema yang tidak berat, kalau belum mampu menganalisis situasi ekonomi politik yang terjadi saat ini, ya tulis lah hal yang sekiranya km kuasai, misalnya tentang "kelicinan mas Setnov dalam menghadapi hukum" atau tentang "sosmed dan perceraian" walaupun pada setiap perceraian selalu ada "pernikahan baru". Atau hal yang lebih merakyat lagi misalnya "kasus mak-mak yang selalu salah reting".

Setelah itu semua km dapatkan, tulislah jangan di tunda. Masih belum bisa merangkainya? Astaga, padahal chatingan ngerayu cewek, ngrayu janda, buat status di fb bisa kan. Nah itu kan juga termasuk merangkai kata dalam tulisan. Jangan biarkan bakat menulismu cuma sampai di chating ngerayu cewek, harus dikualitaskan lagi agar menjadi penulis propagandis yang kritis dan revolusioner.

Untuk apa?

Ini agak serius, tapi yang jelas menulis itu untuk menunjukkan km bisa menulis, bisa menuangkan gagasan dalam tulisan. Bisa memberikan informasi dengan apa yang km tulis, suatu perbuatan yang muliakan, apalagi tulisanmu bisa mencerahkan ditengah kemajuan informasi dan teknologi yang hanya membuat gamang.

Dan terharir saya kutipkan dari mas Pram "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Senin, 09 Oktober 2017

Abad Kekosongan One Piece dan Sejarah Bangsaku

By.
Rina Roudhotul Jannah

Aku adalah generasim milenia,
Aku tak tak tahu apa-apa,
Ku tumbuh dalam reka realita,
Sumber bacaan penuh fiksi belaka,
Hingga menjadi dogma dan kredo kuat dalam otakku hingga ku dungu,
Tak ada perasaan ingin tahu fakta,
Bahwa aku terima saja terombang-ambing,
Harus berlaku begini bukan begitu,
Harus berpikir begini bukan begitu,
Lama-lama aku bertemu sosok buronan,
Yang terselamatkan ide pikirannya,
Eyang Pramoediya, begitu namanya.
Aku mulai suka membaca buku-buku belanda,
Mungkin karena aku lahir seusai penjajahan Belanda,
Aku dicap tak waras dan durhaka,
Mungkin karena aku berpijak di pulau feodalisme,
Beda cerita jika aku berpijak di pulau Ohara,
Dia mengatakan padaku ada sesuatu yang kau tak tahu,
Ada sejarah kelam pada masa abad kekosongan,
Yang hingga kini direka-reka sebaliknya,
Lalu suatu hari ia menyuruhku menonton one piece,
“Kau kan temukan potongan-potongan kecil sejarah kita di dalamnya”
“Apa? jadi siapa engkau disana? Muncul di episode berapa?”
“Kau kan menemukanku dalam sosok yang berbeda disana, aku menitiskan diri pada seorang perempuan muda dan cantik.”
“Meski Gol D. Roger mati dan mewariskan one piece pada siapapun yang bisa menemukannya, aku tak menyerah begitu saja”
“Apa yang kau maksud, kau menjadi Nico Robin eyang?”
“Rajin-rajinlah nonton one piece, kau kan paham sejarah bangsamu di abad kekosongan lalu.”
Lalu semenjak itu aku mulai menyukai one piece hingga Robin menemukan Rio Poneglyph.
Apa semacam ini dikira antek PKI, hamba hanyalah OP lover 😂
😑 Hehehehe

Cerita selengkapnya coming soon

Rabu, 06 September 2017

Buku Ki Hajar Dewantara : Pendidikan dan Kebudayaan


Pemesanan  : 087738744427 (bisa Whastapp)
Harga : 145.000,-

Karya Ki Hajar Dewantara
Bagian Pertama : pendidikan
Bagian Kedua : Budaya
Terbitan : 2011
kondisi buku original dan sudah LENGKAP
------------------------------------------
Sinopsis

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mewajibkan kalangan pendidik yang ada di Tanah Air untuk membaca buku yang ditulis Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara.

"Jika kita sering menyebut sistem pendidikan yang diterapkan di Finlandia hebat, jauh sebelum itu pada 1930 konsep yang diterapkan disana telah ditulis oleh Ki Hajar Dewantoro dalam bukunya," kata Anies di Jakarta.

Dan ini adalah buku paling pokok yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara. dari kajian pendidikan dini hingga lanjut...


Rabu, 02 Agustus 2017

Scorpions - Wind of Change (Lirik Lagu & Terjemahan Bahasa Indonesia)






Mendengarkan Lagu ini terasa terbawa pada kenangan masa lalu yang sulit untuk dilupakan.
Sebuah memori yang tak terlupakan tentang cinta, persahabatan, perjuangan dan harapan.
Harapan ini terikat dengan masa lalu yang tak lagi bisa dirubah.
 
 
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=4YY3HLk9-gE



Tujuh Alasan Mengapa Perpu Ormas Perlu Didukung



Oleh Ruby Kholifah 
Sejak dikeluarkannya Perpu No. 2 tahun 2017 yang difokuskan pada organisasi massa anti Pancasila oleh Presiden Joko Widodo, pro dan kontra mewarnai media sosial kita. Hampir setiap group di WA memposting tulisan pendek berupa analisis tentang keberadaan Perpu No. 2 tahun 2017 tentang Perubahan atas UU No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Untuk memudahkan mengingat, maka Perpu ini kemudian secara singkat dikenal dengan Perpu Ormas Anti Pancasila. Konteks lahirnya Perpu yaitu kegentingan nasional akan berkembangnya paham radikalisme yang justru disebarluaskan oleh sejumlah ormas. Jadi secara sederhana Perpu ini ditujukan untuk mempertahankan rumah kita bernama Indonesia dimana segala keberagaman diakui dan dilindungi. 
Tentu saja tidak ada penyelenggara negara yang sempurna, juga tidak ada sebuah regulasi tanpa kelemahan yang membuka celah tafsir liar. Olehkarenanya tugas kita semua adalah mengawal dan mengawasi pelaksanaan Perpu ini agar tidak ditafsirkan “ngawur” oleh oknum-oknum tertentu.  Dalam konteks negara yang membutuhkan kesolidan dalam menyikapi gerakan radikalisme, maka sangat strategis kalau masukan atau kritis terhadap kekurangan Perpu disampaikan dengan tujuan konstruktif. Meminjam Istilah Prof Sulis Irianto, bahwa jangan sampai kritik berlebihan yang menghajar pemerintah justru sampai membakar rumah kita bersama, Indonesia.
Ada tujuh hal yang perlu saya sampaikan ke publik mengapa Perpu ini penting untuk didukung. 
Pertama, tujuan dari Perpu No. 2 tahun 2017 itu sendiri adalah melindungi rumah kita bersama bernama Indonesia dari radikalisme yang ingin mengganti dasar negara. Jadi kita harus senantiasa meletakkan tafsir Perpu ini pada tujuan mulianya. 
Kedua, konteks lahirnya Perpu untuk merespon kegentingan nasional dimana ajaran radikalisme telah merasuk ke dalam ruang privat keluarga dan segala aspek kehidupan masyarakat. Walhasil, ekspresi fanatisme berlebihan pada satu kelompok, superiortas atas klaim kebenaran satu kelompok, propaganda kebencian yang menggila di dunia media sosial maupun nyata, dan tentu saja aksi-aksi kekerasan yang tidak sungkan lagi dipertontonkan di publik. 
Bukan hanya itu, tingginya intoleransi berkembang di masyarakat juga sangat mengancam keberagaman di Indonesia. Survei intoleransi oleh Wahid Foundation (2016) menyebutkan bahwa  59.9% dari 1.520 respondens, warga Indonesia memiliki kelompok yang dibenci, mereka adalah LGBT, communist, Jewish, Christian, Shia, Wahabi, Buddist, Chinese, 92.2% dari mereka tidak setuju seseorang dari kelompok tersebut kerja di pemerintahan. 82.4% dari mereka, kurang berkenan hidup bertetangga dengan salah satu dari group tersebut.
Survei lain oleh PPIM tentang intoleransi dengan responde 1200 perempuan dan laki-laki juga menunjukkan bahwa meskipun 76% sepakat dengan nilai-nilai Pancasila, dan 84.7% setuju NKRI berbasis Pancasila, tetapi Survei menemukan ada 22.8% sepakat inspirasi negara Islam. Survey ini juga menunjukkan persepsi buruk terhadap non muslim yaitu 62.7% tdk setuju jd presiden, 64% setuju jadi guru di sekolah umum; 55.3% membolehkan acara kebaktian:42.2% tdk boleh,51.6% setuju membangun gereja: 45.8% tidak setuju
Ketiga, target munculnya Perpu ini adalah pada organisasi kemasyarakatan yang anti Pancasila. Ini artinya bahwa ormas yang dengan sengaja sejak awal pendiriannya sudah memiliki agenda mengganti negara Pancasila akan menjadi sasaran Perpu ini. Bagaimana kalau Perpu ditafsirkan berbeda dan dipakai menyerang minoritas lain? Jika itu terjadi maka tentu saja harus dikembalikan lagi kepada tujuan dan konteks dikeluarkannya Perpu ini. Selanjutnya perlu dilihat apakah organisasi kelompok minoritas tersebut memiliki agenda mengganti Pancasila. Jika tidak, maka tentu saja Perpu ini tidak berlaku. Meskipun kenyataannya kelompok minoritas masih terjerat tafsir penodaan dan penistaan agama. Tapi selama mereka tidak anti Pancasila, tentu saja tidak dalam konteks Perpu ini.
Keempat, meski banyak kekurangan, Perpu menjadi langkah awal pemerintah untuk menyikapi secara tegas radikalisme yang memicu pengerasan politik identitas di Indonesia, yang berpotensi memecah belah bangunan persaudaraan rakyat Indonesia. Justru dalam posisi Perpu memiliki kekurangan, maka kini saatnya masyarakat sipil menyiapkan kritik dan masukan konstruktif proporsional untuk mencegah implementasi Perpu yang liar. Ini momentum bagi masyarakat sipil untuk menyiapkan rancangan UU yang lebih komprehensif. Dan mendukung pemerintah dengan menyiapkan argumentasi matang untuk menghadapi DPR, mungkin saja menolak Perpu ini. Jangan sampai pelrindungan terhadap Ormas justru menghilangkan ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi kita.
Kelima, gencarnya berita fitnah untuk menjatuhkan pemerintah yang sah. Meskipun telah disahkannya UU No. 11 tahun 2008 tentang Infomasi serta transaksi elektronik (ITE), dan Surat Edaran Penanganan Ujaran Kebencian Nomor: SE/06/X/2015, tampaknya belum menunjukkan penegakan hukum yang maksimal. Fitnah bertebaran di media sosial dan masuk dalam ruang privasi kita semua. Konstruksi informasi yang mengedepankan emosi daripada kebenaran fakta, telah terbukti mampu mempengaruhi publik. ini yang dinamakan kondisi Post Truth yaitu sebuah keadaaan dimana kondisi emosional lebih memiliki daya tarik dibandingkan dengan fakta yang sebenarnya. Ditambah dengan pengulangan berita yang sangat gencar melalui media dan dari mulut ke mulut, maka emosional ini membentuk kebenaran. 
Misalnya saja yang sedang beredar adalah tuduhan PKI terhadap Presiden Jokowi disosialisasikan begitu gencar dan mampu membangun opini publik. Ini karena aspek emosional memang telah ada di memori orang Indonesia, tentang keburukan PKI (juga karena konstruksi orde baru), ditambah gambaran ketakutan tentang  kehadiran PKI kembali. Sama juga konstruksi Bela Ulama dan Kriminalisasi Ulama, dalam kasus RS, begitu masif dilakukan untuk menciptakan post truth tadi. Kita bisa rasakan emosi Bela Ulama dan menolak kriminalisasi ulama begitu membara. Emosi bergejolak ini telah meminggirkan kewarasan berpikir sebagian kita. Bahkan cenderung menolak segala fakta dan bukti bukti kebenaran yang tersebar di media dan hasil tim profesional. 
Kondisi fitnah yang menyerang pemerintah yang sah berpotensi pada tingginya ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Ini yang dimaui oleh ISIS. Sehingga dengan tidak percayanya rakyat pada pemerintah, maka tawaran ISIS akan mudah diterima oleh publik dan dukungan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia semakin mendapatkan jalan mulusnya. Padahal kenyataanya semua daerah didalam kendali ISIS justru sebaliknya sedang perang, pembunuhan dimana-mana, anak-anak kecil dibunuh, perempuan diperkosa dan dijadikan budak seks, kekurangan makanan dan sebagainya. Jauh sekali dari propaganda mereka yang menawarkan kesejahteraan. 
Keenam, ruang publik yang tidak aman. Maraknya kebencian yang diekspresikan dalam bentuk perang dunia maya sampai pada persekusi nyata kepada beberapa orang yang dianggap menyerang kredibelitas kelompok tertentu, begitu mengancam ruang publik kita. Kasus persekusi pada Fiera Lovita, menyisakan trauma mendalam pada korbannya dan juga menciptakan kecemasan publik yang luar biasa. Termasuk mengancam ruang demokrasi “kebebsan berekspresi” kita. 
Ketujuh, Perpu akan membantu mengembalikan kemanusiaan rakyat Indonesia dengan kembali kepada esensi menjadi Indonesia. Ini bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat kembali empat pondasi penting bernegara kita dengan memahami esensi dari NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945. Esensi mengapa kita perlu mempertahnakan rumah bersama yaitu Indonesia.
Saat ini kita butuh solid mengatakan tidak pada segala bentuk radikalisme yang sedang mengancam negara kita. Perlu langkah-langkah berani untuk menjaga keutuhan Indonesia. Saya setuju dengan segala kritik yang disampaikan banyak pihak dalam melihat Perpu ini, tetapi saya lebih setuju jika Kantor Presiden segera memfasilitasi dan mengkonsolidasi kritik dan masukan tersebut menjadi bangunan konsep dan argumentasi yang konstruktif untuk UU Ormas yang lebih baik, bukan menjadi bola panas yang akan dipakai oleh para pendukung radikalisme untuk mendelegitimasi posisi negara. Saya setuju bahwa kita semua harus mengawal implementasi Perpu ini jangan sampai ditafsirkan liar. Kita dorong mekanisme selanjutnya segera digelar oleh pemerintah untuk memastikan bahwa Perpu ini akan menjadi UU yang lebih melindungi organisasi kemasyarakatan kita, yang berjuang untuk menjaga rumah bersama Indonesia. 


Penulis adalah Direktur The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia 
Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/79618/tujuh-alasan-mengapa-perpu-ormas-perlu-didukung#

Selasa, 01 Agustus 2017

INDONESIA JUARA 1 LOMBA PADUAN SUARA SE DUNIA 2017


Mantap ...


Jakarta - Lagu daerah asal Papua, Yamko Rambe Yamko, dinyanyikan dengan sangat indah dan rancak oleh paduan suara anak Indonesia, The Resonanz Children's Choir (TRCC). Tak heran, jawara pertama mereka raih di kategori Children's and Youth Choir, Claudio Monteverdi Choral Competition 2016 di Venesia, Italia. 

Kemenangan ini disambut gegap gempita di dunia sosial media. Berbagai pujian pun mengalir. Para warga media sosial pun mengungkapkan kebanggaannya, "Selamat kepada Paduan suara anak The Resonanz Children's Choir (TRCC) yang juara umum paduan suara internasional di Italia. Xiangyi" demikian dicuitkan pemilik akun @xiangyifengshui. 

Akun twitter milik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), @KEMENPORA_RI , mencuitkan proses TRCC mengikuti kompetisi paduan suara tingkat dunia hingga menjadi jawara itu. 

Awalnya, TRCC yang beranggotakan 42 anak ini mengenakan kostum bernuansa Aceh memukau juri dan hadirin yang memadati ruangan Auditorium Santa Margherita. Para juri kemudian meloloskan TRCC ke babak final melawan keempat finalis kategori lainnya yaitu kategori Adult's Choir dan kategori Sacred Music. 

Di babak final, paduan suara anak TRCC tampil berbalut kostum bernuansa Papua, membawakan dua lagu, yakni satu lagu karya komposer Hongaria Zoltan Kodaly dan Yamko Rambe Yamko karya aransemen dari Agustinus Bambang Jusana.

"TRCC berhasil memperoleh juara pertama kategori Children's and Youth Choir dengan nilai 94,2 dan memperoleh Gold Diploma Level II. Awesome!" demikian cuit akun Kemenpora. 

Sumber : https://news.detik.com/berita/3250608/kala-yamko-rambe-yamko-nyanyian-anak-indonesia-bikin-merinding-di-italia

Senin, 31 Juli 2017

Ideologi Ideologi Pendidikan


"Seiring pergantian zaman, paham-paham yang berkembang didunia mengalami berbagai perubahan. Hal ini dipengaruhi oleh pola pikir yang berkembang pada zaman tertentu. Ada pertentangan-pertentangan yang senantiasa bertarung dan secara silih berganti mendominasi pola pemikiran masyarakat".

Misalnya pertarungan antara agama dan sains. Pada zaman pertengahan agama mendominasi, dan sains termarjinalkan. Selanjutnya pada zaman renaissance hingga sekarang, sains mendorninasi dan menjadi alat ukur kebenaran sedangkan agama lebih cenderung dimarjinalkan. Dalam dataran ideologi ekonomi pertarungan antara kapitalisme dan sosialisme mewarnai ideologi masyarakat dunia.
Kapitalisme yang dimotori oleh Amerika berpegang pada kebebasan individu secara mutlak, sedangkan sosialisme yang dimotori oleh Rusia berpegang pada pembatasan terhadap kebebasan individu, dan semuanya diatur oleh Negara untuk kepentingan bersama. Pertarungan ini akhirnya dimenangkan oleh Amerika sebagai pembawa bendera kapitalis yang akhimya berdampak pada berbagai sector kehidupan masyarakat, salah satunya pada sektor pendidikan.



Pendidikan memiliki peranan penting dalam pengembangan kemampuan seseorang. Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan pengetahuan yang nantinya menjadi bekal dalam kehidupan ditengah masyarakat. Isu tentang pendidikan menarik dan senantiasa actual pendidikan tidak pernah lekang oleh zaman, mulai dari zaman Adam, Hermes, sampai zaman kita sekarang bahkan juga pada zaman-zaman berikutnya.
Pendidikan juga tidak bisa lepas dari ideologi yang berkembang ditengah masyarakat. Ideologi ini turut mewarnai pendidikan sehingga pendidikan yang dilakukan ditengah masyarakat memiliki karakteristik tertentu yang identik dengan ideologi tertentu pula. Setidak-nya ada tiga ideologi yang berkembang dalam dunia pendidikan, yaitu konservatif, kritis dan liberal. Perbedaan dari ketiga ideology tersebut terkait dengan bagaimana pandangan manusia terkait dengan apa yang menimpanya. Hal ini akan berdampak pada metode dan cara pembelajaran yang diberikan oleh pendidikan dengan ideologi tertentu.
Kapitalisme global berimplikasi pada pengakuan terhadap hak individu. Hal ini menimbulkan paham liberalisme yang menekankan kebebasan pada masing-masing individu dalam segala hal. Dalam menghadapi hal tersebut, pendidikan dituntut untuk mempersiapkan generasi-generasi yang mampu berinteraksi dengan keadaaan yang terjadi sekarang. Untuk itu kemudian ideologi pendidikan liberal muncul. 
Menurut paradigma kritis, pendidikan merupakan arena perjuangan politik. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap 'the dominant ideologi' kearah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar cikap kritis terhadap sistim dan sruktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak bisa bersikap netral, bersikap obyektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran positivisme. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistim dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistim sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah 'memanusiakan' kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.
Selanjutnya paradigma Liberal, berangkat dari keyakinan bahwa tidak ada masalah dalam sistem yang berlaku ditengah masyarakat, masalahnya terletak pada mentalitas, kreativitas, motivasi, ketrampilan teknis, serta kecerdasan anak didik. Paradigma pendidikan liberal kemudian menimbulkan suatu kesadaran, yang Dengan meminjam istilah Freire (1970) disebut sebagai kesadaran naif Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat `aspek manusia` menjadi akar penyebab masalah masarakat. Dalam kesadaran ini 'masalah etika, kreativitas, 'need for achevernent' dianggap sebagai penentu perubahan sosial.
Jadi dalam menganalisis misalnya mengapa suatu masyarakat miskin menurut paradigma pendidikan liberal karena `salah' masyarakat yang miskin itu sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya 'membangunan' dan seterusnya. Oleh karena itu 'man power development' adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam kontek ini tidak mempertanyakan systim dan struktur yang berlaku, bahkan systim dan struktur yang ada dianggap sudah baik dan benar.
Dalam memandang tentang realitas sosial yang sedang berjalan, kaum liberal lebih berorientasi pada upaya menyesuaikan "subyek" terhadap realitas yang melingkupinya. Dengan demikian, berdasarkan pandangan ini, yang harus berubah adalah "subyeknya", dalam hal ini peserta didik, agar bisa beradaptasi dengan sistem dan struktur yang sedang berjalan.
Berkaitan dengan pendidikan, kaum liberal beranggapan bahwa persoalan pendidikan terlepas dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dan pendidikan tidak memiliki kemudian lebih diarahkan pada penyesuaian atas sistem dan struktur sosial yang berjalan. Yang lebih diperhatikan adalah bagaimana meningkatkan kualitas dari proses belajar mengajar sendiri, fasilitas dan kelas yang baru, modernisasi peralatan sekolah, penyeimbangan rasio guru-murid. Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan rnetodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih effisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics) 'learning by doing', 'experimental learning', ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebagainya. LTsaha peningkatan tersebut terisolasi dengan svstem dan struktur ketidak adilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat.
Kaum Libera sama-sama berpendirian bahwa pendidiakan adalah politik, dan “excellence" haruslah merupakan target utama pendidikan. Kaum Liberal beranggapan bahwa masalah mayarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dalam struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender dimasyarakat luas. Bahkan pendidikan bagi salah satu aliran liberal yakni `structural funrtionalisme' justu dimaksud sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan justru dimaksudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai nilai tata susila keyakinan dan nilai - nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik.
Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan rti berbagai macam pelatihan. Akar dan pendidikan ini adalah Liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.
Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita cita Barat tentang individualisme. Ide palitik liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat komponen komponennya. Komponen pertama, adalah komponen pengaruh filsafat Barat tentang model manusia universal yaitu manusia yang "rational liberal". Ada beberapa asumsi yang mendukung konsep manusia "rasional liberal" seperti: pertama bahwa semua manusia memiliki potensi sama dalam intelektual, kedua baik tatanan alam maupun norma sosial dapat ditangkap oleh akal. Ketiga adalah "individualis" yakni adanya angapan bahwa manusia adalah atomistik dan atanom (Bay,1988). Menernpatkan individu socara atomistic, membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan, dan masyarakat dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil.
Pengaruh liberal ini kelihatan dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui proses persaingan antar murid. Perankingan untuk menentukan murid terbaik, adalah implikasi dari paham pendidikan ini. Pengaruh pendidikan liberal juga dapat dilihat dalam berbagai training management, kewiraswastaan, dan training-training yang lain. Contoh kongkrit pendekatan liberal bisa kita lihat pada Achievement Motivation Training (AMT) McClelland. McClelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga karena mereka tidak memiliki apa yang dinamakannya N Ach. Oleh karena sarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah perlu virus "N ach" yang membuat individu agresif dan rasional
Komponen kedua adalah Positivisme. Positivisme sebagai suatu paradigma ihnu sosial yang dominan sewasa ini juga menjadi dasar bagi model pendidikan Liberal. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alarn memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu ilrnu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi, melalui metode determinasi, 'fixed law' atau kumpulan hukum teori (Schoyer, 1973). Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tungal dianggap "appropriate" untuk semua fenomena.
Oleh karena itu riset sosial ataupun pendidikan dan pelatihan harus didekati dengan positivisme yang melibatkan unsur-unsur seperti obyektivitas, empiris, tidak memihak, detachment, rasional dan bebas nilai. Pengetahuan selalu menganut hukum ilmiah yang bersifat universal, prosedur harus dikuantifisir dan diveritikasi dengan metode "scientific". Dengan kata lain, positivism mensaratkan pemisahan fakta dan nilai dalam rangka menuju pada pemahaman obyektif atas realitas sosial.
Pendidikan dan pelatihan dalam positivistik bersifat fabrikasi dan mekanisasi untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan `pasar kerja'. Dalam pola pemikiran positivistic Murid dididik untuk tunduk pada struktur yang ada. Dari sana, bisa kita lihat bahwa pada paradigma liberal pendidikan biasanya lebih melanggengkan system yang ada dengan melahirkan anak-anak didik yang berperan dalam mempertahankan system tersebut.
Tradisi liberal telah mendominasi konsep pendidikan hingga saat ini. Pendidikan liberal adalah menjadi bagian dari globalisasi ekonomi 'liberal' kapitalisme. Dalam kontek lokal, paradigma pendidikan liberal telah menjadi bagian dari sistim developmentalisme, dimana sistim tersebut ditegakan pada suatu asumsi bahwa akar 'underdevelopment' karena rakyat udak mampu terlibat dalam sistim kapitalisme. Pendidikan harus membantu peserta didik untuk masuk dalam sistim developmentalisme tersebut, sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam kompetisi di system kapitalis.
Berdasarkan pembahasan pada pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan yaitu Pada paradigma pendidikan liberal, fokus utama terletak pada bagaimana membuat anak didik memiliki kemampuan sehingga mereka bisa bersaing di tengah sistem yang berlaku pada masyarakat. Pendidikan liberal tidak melihat masalah yang berkembang daiam masyarakat karena sistem sosial masyarakat tersebut, tetapi karena ketidaksiapan manusia dalam menghadapi sistem. Sehingga ini akan mengakibatkan pembelajaran yang bersifat memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna sebanyak-banyaknya kepada anak didik, pengetahuan bersifat doktriner dan menilai sesuatu hanya dengan melihat kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh anak didik. Menariknya ideologi pendidikan inilah yang sekarang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat global.