Laman

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 14 Oktober 2017

GORENGAN ISU

Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan memori melawan lupa.

Sabda Kundera begitu memukau, karena mewakili peristiwa yang terjadi di ceko, saat tiang gantungan menjadi saksi bisu meregang nyawa mentri luar negri.

Dalam rentetan narasi sejarah Indonesia banyak sekali yang perlu di ingat dan untuk di pelajari, bukan untuk memojokkan golongan satu dengan yang lain. Namun yang terjadi demikian masalalu diseret kembali kedalam gelanggang politik sehingga bukan pelajaran yang didapatkan akan tetapi malah tambah memperkeruh keadaan.

Oktober sudah merangkak pada pertengahan, namun peristiwa mempeka-i-kan masih bersliweran di lini masa. Isu di goreng dengan renyah hingga masyarakat dengan lahap mengkonsumsinya tanpa perlu mempertanyakan gorengan ini bikinan "chef" siapa?

Masalalu di goreng ulang dan ditambah dengan bumbu dramatis agar lebih gurih dan lezat untuk dikonsumsi masyarakat, 65 menjadi menu tahunan yang tak kunjung selesai dihidangkan. Ditambah dengan pernyataan bangkitnya kembali partai yang telah di larang dengan 15000 anggota yang entah dari mana sumbernya.

65 menjadi tahun yang kelam, ribuan nyawa melayang dan banyak yang tak tau apa-apa menjadi korban. Tahta yang diraih setelah peristiwa itu syarat akan darah. Ini tragedi kemanusiaan yang haram hukumnya untuk dilupakan.

Ada yang ingin menolak lupa, juga ada yang ingin menolak ingat. Masing-masing pihak harus mendapatkan porsi sama agar semuanya terakomodir. Namun bukan persoalan mencari siapa yang benar, sejarah mana yang benar, semuanya mempunyai tafsir masing-masing sesuai kepentingan. Namun akankah kepntingan itu akan mengalahkan naluri kemanusian.





Jumat, 13 Oktober 2017

CITRA KARBITAN

Barangkali proses panjang tidak di perlukan untuk membuat seseorang menjadi lebih matang, karena zaman sekarang menuntut harus "sesegara" mungkin walau dengan cara karbitan.

Kita sering kali melihat tokoh yang entah bagaimana prosesnya tau-tau menjadi tenar, lebih parahnya yang mengidolakan juga banyak. Dan begitupun sebaliknya yang tenar pun mudah redup ditelan dengan kemilau bintang baru.

Dizaman sekarang untuk melakukan semua itu mudah tinggal pandai mempoles dan lewat trik sulap media yang akan mampu menghegemoni semua. Nah ini lah yang di namakan "citra karbitan".

Contoh: Ulamak, untuk mendapatkan gelar itu tak perlu kapasitas ilmu banyak, yang penting membeo saja dengan dalil-dalil yang entah itu kontekstual atau untuk kemaslahatan umat itu nomer dua, yang penting lantang, di bumbui dengan sikap menentang pemerintah. Contoh lain ketenaran artis sinetron kebanyakan tidak di topang oleh kemampuannya dalam ber akting, ini bisa disulap menjadi bintang dengan membuat hal-hal yang kontrovesrsi untuk menaikkan reting. Pun dalam dunia tarik suara.

Karena begitu cepatnya perubahan yang terjadi dari berbagai macam gojelak terciptalah keadaan yang mampu mengombang-ambingkan pikiran yang mudah goyah.

Agen sulap media di bantu dengan jembatan maya internet yang sanggup meretas jarak membuat manusia tak mampu berasumsi. Dengan kapital yang besar seluruh frame masa dapat disamakan. Jika terjadi perang frame inilah yang membuat masa menjadi kacau. Tak mampu membedekan mana yang benar.

Sedangkan elite intelektual suadah memperdagangkan otaknya dengan sekeranjang uang. Idealisme membusuk di otak hanya menghasilkan kangker yang sulit di sembuhkan.

Sementara massa butuh jalan terang untuk menitih hari esok yang lebih baik.

GENERASI DIGITAL NATIVE

Jika periodesasi "digital native" dimulai tahun 1994 maka saya tidak termasuk generasi jari-jemari. Sebab saya dilahirkan saat unisovyet telah runtuh.

Genarasi angkatan 94 ini di juluki "digital native" karena mereka telah melek gadged. Mereka lincah dengan memainkannya dan membentuk ikatan komunal lintas dunia maya.

Ada yang dengan nada nynyir menyebutnya generasi ini dengan generasi menunduk, karena tiap saat ia selalu "mentelengi" gadgednya.

Digital native diambil dari bahasa Yunani yang bebararti jari-jemari yang asli. Karena aktivitas generasi ini di habiskan dengan senam jari maka sah sudah pengistilahan ini.

Berbeda dengan angkatan pra94 yang mana mereka lebih suka menggunakan jarinya untuk mencari "upil, petan sembari rasan-rasan". Generasi pra 94 masih kaku menghadapi percepatan teknologi. Ada yang menganggap ini ulah si "wahyudi" yang selalu menjadi akar masalah dari ketidak mampuan berfikir.

Setiap zaman mempunyai anaknya masing-masing, kelakuan anak tak jauh dari induk ketika induk ingin selalu cepat dan praktis maka anak pun begitu.

Yang menjadi masalah adalah generasi pra digital natif yang terkadang tidak tahu fungsi teknologi komunikasi, walhasi HP di artikan sebagai hubungan perselingkuhan yang ahirnya berujung chat mesum. Ada juga yang menggunakannya untuk menipu seperti papa minta pulsa.

Kamis, 12 Oktober 2017

Seakan si Tukang Lapor

Egi Sudjana sempat menjadi populer semenjak menjadi pengacaranya sang habib dalam kasus Firza hot dan pengacara first travel. Selain itu nama Egy juga pernah diduga ada dalam jajaran petinggi saracen.


Kali ini Egy kembali menghebohkan ketika menolak Perppu no 2 tahun 2017 tentang ormas. 
Egy mencoba untuk menafsirkan Pancasila pada sila pertama, yakni tentang "ketuhanan yang maha esa" . Waaw Kren ternyata Egi selain pengacara juga ahli sejarah dan ahli agama, warbiasahh, amazing. Bagi Egy Pancasila hanya milik agama Islam, karena yang memakai konsep ke esaan Tuhan hanya agama Islam. Selain dari Islam tidak ada ketuhanan yang maha esa. Kristiani memakai konsep trinitas, Hindu memakai tri dharma, dan lain sebagainya. Artinya semua agama selain Islam bisa dibubarkan dengan Perppu ini, karena bertentangan dengan Pancasila.. Hmmm jadi penasaran, Kaka Egy ini belajar sejarah dan agamanya dimana. Ahh sudahlah.

Namun yang pasti pernyataan Egy tersebut memancing amarah umat agama lain. Dan langsung mendapatkan kritikan serius dari salah seorang tokoh budayawan ternama yang juga sebagai rohaniawan khatolik yakni Romo Frans Magnis Suseno. Menurut Romo Magnis ada dua kebodohan besar dari Egy Sudjana, pertama adalah Egy tidak memahami bahwa Pancasila yang disahkan pada 18 Agustus 1945  pembukaan undang-undang dasar merukakan hasil rumusan untuk menampung agama-agama. Yang kedua, komentar Egy terkait tidak ada ke esaan Tuhan  Selain dari agama islam itu merupakan kesombongan yang serius. 

Pernyataan Romo Magnis tersebut membuat Egy tersinggung dan langsung melaporkan romo Magnis ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Karena menyebut dirinya bodoh. Hadehhhhh, Kaka egy mah suka gitu, mudah tersinggung, apa dia gak mikirin perasaan umat agama lain terkait tafsir Pancasila nya. 
Hal yang sama juga dilakukan Egy pada kasus saracen, yakni tersungging eh salah tersinggung dengan tulisan dari ketua bidang hukum Dedy Mawardi. Dan langsung melaporkannya ke polisi. Ihh jadi takut. 

Namun sayangnya Romo Magnis tidak gentar sedikitpun terkait laporan pihak Egy tersebut. Dengan santainya Romo Magnis mengomentari 
"Saya tidak peduli. Terserah jika Pak Eggi lapor ke polisi. Yang saya katakan sudah jelas dan akan saya pertahankan. Saya anggap (pernyataan saya) itu sudah tepat,"
Langkah egy melaporkan balik memang sedikit membingungkan. Tapi begitulah strateginya Kaka Egy.Kita tunggu saja apakah strategi ini berhasil atau tidak. 




ANTARA SARANA PENDIDIKAN, WISATA DAN MOL

Ketika masuk gedung perpustakaan di kampus putih, terlihat banyak pengunjung, namun pengunjungnya rata-rata berwajah masam dan tua, dalam hati ini berkata, mereka pasti bukan maba, soalnya wajahnya tidak ada tampang gemesin seperti dedek-dedek maba. Ternyata prediksiku tepat, setelah aku tanya beberapa diantara mereka yang suram dan jenuh akan skripsi yang belum jadi-jadi.


Lalu dimana para dedek maba zaman now? Ya, mereka lebih suka di tempat wisata, mol-mol. Kalau tidak percaya cek saja, namun pernyataan ini bukan kemutlakan ini hanyalah observasi kecil-kecilan.

Pembangunan tempat wisata dan mol-mol sangat pesat ini berbanding terbalik dengan pembangunan sarana pendidikan dan penunjang pendidikan. Dan, generasi sekarang adalah generasi yang di besarkan dengan hegemoni kapitalisme lewat agennya pusat hiburan dan pusat belanja, di tambah lagi jargon-jargon "cah kurang piknik" "kurang ngemol" agar seolah-olah keduanya menjadi suatu keharusan.

Masih tidak percaya, buktikan saja, pasti di tempat hiburan dan pusat perbelanjaan kamu akan menjumpai mereka nongkrong disana.

Kalau zaman pra melenial pusat perbelanjaan seperti mol kan belum banyak, masak zaman dulu mau nongkrong di pasar tradisional, haha kan gak asik buat selpi-selpi lurr. Nah itulah sedikit perbedaan. Jadi, zaman sekarang dengan kemilau kapitalis akan membuat siapapun yang melihatnya akan ngiler dan yang pasti menjadi masyarakat konsumeris, hedonis, miskin cipta.

Dari itu bapak, tolong imbangi percepetan pembangunan wisata dan pusat perbelanjaan dengan sarana pendidikan dan penunjang pendidikan. Jadi, kalau bapak membangun perpustakaan yang megah jangan cuma satu, tapi sebarlah kalau perlu jejerkan pada setiap tempat wisata dan pusat belanja, biar para generesai gak cuma piknik, ngemol tapi juga giat belajar dan berprestasi membangun negri.

MENCARI ARAB, MELIHAT INDONESIA

Temanku yang satu ini paling mahir memprofokasi orang untuk membeli bukunya, kali ini aku terpaksa membeli dua buku darinya, walaupun sebenarnya kredit bukan cas. Hehe.

Buku yang pertama tentang Snouck yang berjudul mencari Arab, melihat Indonesia. Buku yang kedua berjudul Persekongkolan Ahli Makrifat karya pak Kunto.


Buku yang pertama tipis sekali sekitar 46 halaman, tapi harganya 35rb, coba bayangkan dan hitung berarti berapa harganya perlembar?

Karena buku ini tipis jadi aku pilih sebagai menu malam ini untuk memenuhi nutrisi otak yang tinggal setengah giga, selebihnya penuh oleh pikiran sekripsi (ojo mung dipikir le !), mengingat teman seangkatan sudah pada memakai toga. 

Judulnya menarik "MENCARI ARAB, MELIHAT INDONESIA: Kacamata Snouck Hurgronje tentang Hindia Belanda.

Sekilah judulnya aneh, mencari Arab, emang pernah hilang? Tapi ternyata maksutnya, Snouck adalah peniliti yang fokus penelitiannya pada Arab. 

Ia bernama lengkap Christiaan Snouck Hurgronje memulai karir akademik dan profesionalnya yang di fokuskan pada dunia Arab, terutama daerah jantung spiritualitasnya, yaitu Hijaz. Ia juga pernah mempublikasikan disertasinya yang kalau di bahasa Indonesiakan berjudul "Perayaan Mekkah".

Dalam penenelitiannya ia menggunakan metode partisipatif, ia memakai pakaian ala Arab, belajar agama termasuk juga belajar qur'an, bahkan ia ahirnya sunat. Kebayangkan gimana ekspresi pak"calak"nya ketika menyunat burung dewasa. 

Ia juga terkenal sebagai bapak kajian Islam Hindia Belanda, tentunya dengan segala macam dan kelebihannya. Dari itulah ia melihat Hindia Belanda dengan kacamata arab yang telah ia pelajari.

Kamu harus baca buku ini, tapi sebelum baca beli dulu dong, kamu tak akan menyesal dengan buku karya K W. FOGG. Kamu akan mendapat kesimpulan Islam di Hindia Belanda yang sekarang indonesia sebagai Islam yang kuat, tetapi ternoda oleh praktik kebudayaan lokal. Terlepas sepakat atau tidak dengan penelitian dia, ya monggo di kritisi, kan sekarang ada Islam Nusantara. Tapi sebelumnya jangan lupa, beli dulu ya.

Ehhh, maaf ko jadi iklan !


Rabu, 11 Oktober 2017

NGERUMPI ZAMAN NOW

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat membuat polah masyarakat terseok-seok meladeninya. Banyak hal positif dari kemajuan ini, namun terkadang di nodai dengan tangan jahil yang disetir oleh ambisi kuasa.


Kemajuan teknologi informasi di pakai untuk menebar kebusukan, dengan mengangkat isu SARA, sehingga keadaan ini gonjang-ganjing dengan gunjingan dari sumber Hoax yang tujuannya mendapat simpati publik dan diarahkan pada kepentingan tertentu.

Menurut Cherian George bahwa tujuan Hate Spin (ujaran kebencian)  adalah untuk membangun dukungan kelompok internal yang bersifat eksklusife dan merupakan bentuk politik identitas.

Fenomena ini menggejala dan tumbuh subur renyah dimakan publik karena publik sudah terbiasa dengan sajian gosip dan lemah literasi. Sajian gosib yang ditayangankan mengajarkan masyarakat menjadi tukang rumpi, kebiasaan gosip tanpa mengkonfirmasi dan menganalisa apakah hal seperti itu benar atau bohong. Budaya baca yang minim(mendapat urutan no 2 dari bawah di tingkat dunia) membuat kebiasan asal percaya karena lemah mengkritisi dan lemah berfikir logis.

Didalam sejarah islam pernah terjadi hal yang menggemparkan, kabar dusta (hadisul ifki) tentang perselingkuhan. Jadi hati-hati dalam mendapatkan kabar. Konfirmasi, cek dan analisa.

Baca dengan seksama jangan hanya doyan ngerumpi.